1. Exordium

Menerbitkan buku memang istimewa.

Kalian tahu, melihat namamu berada di sampul sebuah buku yang tersusun rapi di rak toko buku adalah perasaan yang luar biasa!

“Luar biasa! Yea! Tapi mana uangnya?”

Sobar mendelik, “Kau tak bisa mengharapkan uang terus? Buku harus dicetak, dijual lalu kita baru mendapatkan royaltinya.”

“Kapan kalau begitu?”

Sobar menarik nafas, “Berapa lama kau membutuhkan waktu untuk membaca sebuah buku? Buku pelajaran misalnya?”

“Satu semester..”
“Nah!”

“Nah?”

“Nah, jika orang-orang pada umumnya memiliki kemampuan dan minat membaca seperti dirimu, dan sepertinya kau adalah ukuran masyarakat umum. Hitung saja, satu semester itu enam bulan!”

“Lalu?”

“Bayangkan jika saat buku itu dirilis, orang masih membaca sebuah buku, anggap saja ia baru setengah jalan dari menyelesaikan buku itu, berarti tiga bulan lagi ia baru ke toko buku dan mencari buku baru untuk dibacanya, itu pun kalau buku kita yang menarik perhatiannya diantara sekian ratus judul buku,” terang Sobar panjang lebar.

“Bisa pakai bahasa Indonesia aja?”

“Intinya, jangan berharap uangnya datang secepat kilat.”

“Hmppfff…” terdengar suara nafas yang tertahan, “Tapi kalau uangnya selama itu, bisa-bisa aku kembali bekerja sebagai petugas valet lagi.”

“Gudluck Mamen!” ujar Sobar seraya berlalu dari kamar kos yang sempit dan bau itu. Mamen terdiam, mengambil puntung rokok yang dilihatnya masih sedikit panjang, lalu menyalakannya. Asap putih tanpa rasa mengepul memenuhi ruangan kamar itu, melayang pelan melewati dinding bercat putih yang telah luntur, dimana sebuah poster promosi sebuah buku menempel dengan lemah;

Poster sebuah buku berjudul

ADRIANA-MAMEN; Petualangan Cinta di Titik Nol Jakarta!

Mamen melirik pada sampul itu; lalu mendengus; “Tak ada uangnya, tetap saja miskin, bah!”

*

Selain aku, pasti ada banyak sarjana strata satu yang bekerja serabutan. Susah mendapatkan pekerjaan di jaman sekarang. Bahkan ketika orang yang menyeleksi bertanya “Ada kemampuan lain?” saat wawancara kerja, dan aku menjawab “Saya punya buku.” Itu pun tidak berarti apa-apa. “Bukumu itu, apakah kau yang menulis?” Aku pun menggeleng, buku itu tentu saja Sobar yang menulis. “Tepatnya, dia menuliskan pengalaman saya dalam mengejar anu, seorang perempuan.” Sang pewawancara tertawa. “Hahaha! Jadi maksudnya, Anda curhat pada teman Anda, Si Sobar itu, dan dia menerbitkannya?” Aku hanya terdiam. “Jika sudah punya buku, kenapa Anda masih mencari pekerjaan?” tanya si pewawancara lagi. Lalu aku teringat penjelasan Sobar soal royalti. “Berapa lama Anda membaca sebuah buku?” tanyaku, si pewawancara menggeleng, “Saya tak pernah membaca buku sejak lulus kuliah. Bahkan selama kuliah pun saya tak ingat apakah saya pernah membaca sebuah buku!” dan aku terdiam mendengar jawabannya, bisa jadi buku si Sobar itu tak laku jika semua orang seperti si pewawancara ini. Tak pernah membaca sebuah buku?

“Saya akan memberi Anda buku saya itu, jika Anda mau memberi saya pekerjaan ini.” Tawarku kemudian. Dan laki-laki menjawab; “Tak perlu, saya tak perlu buku, kecuali buku nikah dan buku laporan keuangan.”

“Anda membutuhkan ijasah saya? Fotokopinya mungkin?”

“Itu juga tak perlu.” Kata si pewawancara.

“Lalu apa yang Anda perlukan dari wawancara ini?”

“Ah, saya hanya perlu melihat apakah postur dan wajahmu cocok saja.”

“Jadi?”

“Selamat bekerja.”

Maka begitulah, aku kembali menjadi petugas valet parkir.

*

Dear Sobar.

Aku sudah kembali mendapatkan pekerjaan lamaku. Pekerjaan yang bahkan bisa aku dapatkan sejak sebelum aku lulus kuliah, belum bergelar sarjana. Dulu kau memaksaku untuk menyelesaikan kuliah, mencari kerja yang lebih baik hingga aku bisa mendapatkan kekasih, lalu menikah. Tapi sekarang, aku kembali ke titik nol.

Titik Nol?

Aku tersadar dari lamunanku dan memfokuskan pandangan pada sebuah buku yang tergeletak di jok sebelah kiri sedan hitam yang baru saja kuparkir di basemen mal itu. Ada buku tulisan Sobar di sana. Jujur, ada perasaan senang yang mendadak menggumpal didada. Jadi bagaimana kalau aku memberi kejutan kecil pada si pemilik buku yang juga pemilik mobil yang tadi menyerahkan kuncinya padaku untuk diparkirkan itu?

Kejutan kecil saja. Tandatangan di halaman sampul?

Aku buru-buru mengambil bolpen pilot hitam dari saku-ku. Dan membuka buku itu, mengayun-ayunkan mata bolen dan bersiap membubuhkan tanda-tanganku. Tapi sederet kalimat yang tertulis dengan tinta hitam dihalaman sampul buku menarik perhatianku.

Sebuah kalimat berisi teka-teki.

Persis seperti teka-teki yang dulu.

Tidak. Jangan terulang lagi.

Sial!

*

Aku berdiri beberapa meter dari sedan hitam yang kuparkir tadi. Mengamati sedan hitam itu lamat-lamat seraya mengingat-ingat. Ada banyak sedan hitam buatan Eropa seperti ini di jalanan Jakarta. Bahkan taksi-taksi pun memakai merek ini. Tapi hanya satu sedan hitam Mercedes yang berhubungan dengan Adriana. Tentu saja sedan hitam bermerk Mercedes milik lelaki bodoh yang selalu berdandan rapi dan wangi itu. Si Stupido Zara Boy!

Aku segera membuka lagi buku Sobar yang berkisah tentang petualanganku itu, membaca lagi teka-teki yang tertulis disana. Kalimatnya ditulis dengan tinta hitam, tulisan khas seorang wanita. Kali ini perlahan-lahan seraya mengeluarkan sebatang Djarum dari balik saku bajuku. Batang rokok yang tertekuk-tekuk lemas itu menyala lirih. Aku membaca teka-teki itu lagi.

Teka teki macam apa ini?

Desahku dalam hati. Lalu aku membuka-buka halaman buku itu, mencari –siapa tahu- ada teka-teki lain, tapi yang muncul adalah sebuah potongan tiket bioskop yang melesat keluar dari halaman buku.

Pondok Indah XXI

AVATAR

Theatre-2

9D

19.00 WIB

Aku melirik kearah jam tanganku. “19.15 WIB”. Maka aku segera berlari menuju bioskop.

*

“Kau terlambat, filmnya udah mulai.” Suara laki-laki disebelahku terdengar lirih, setengah berbisik, kursi 9D disebelahnya kosong dan aku duduk persis disampingnya. “Benar kata gadis itu, kau selalu terlambat. Terlambat berpikir, terlambat bergerak, terlambat memutuskan. LAMBAT!” Dia melanjutkan kata-katanya. Laki-laki ini, bau wangi parfum mahal masih saja terpancar dari tubuhnya. Ia mengenakan kemeja putih yang menyala tersiram pantulan cahaya dari layar, sebuah syal membebat leherinya hingga ke dagu. Kaki kanannya terangkat menyilang pada kaki kirinya. Sepertinya dia sangat berpendidikan. Tapi dulu kami menjulukinya si bodoh berpakaian Zara.

“Aku sudah menonton film ini lima kali. Kau harus coba yang versi 3-D.” katanya lagi, masih berbisik, wajahnya lurus menatap ke layar bioskop, film utama telah diputar.

“Apakah kau homo?” tanyaku padanya dengan pandangan lurus kearah hidungnya. Ia menoleh dengan cepat padaku. Dari mana kau tahu? Haha. Tidak, dia tidak menanyakan itu.

“Kau gila?” katanya dengan tenang, “Dari mana pertanyaan itu?”

“Kau mengajakku menonton. Tidakkah itu romantis?” Jawabku dengan tenang, “Aku bisa dipecat!”

“Lihatlah ke depan.” Pintanya, “Filmnya bagus.”

“Aku bisa dipecat.” Kataku sekali lagi. “Ini sama seperti buku, bukunya bagus tapi uangnya datang belakangan, filmnya bagus tapi aku bisa dipecat.”

“Jadi maksudnya, seperti buah simalakama huh?”

“Sejenis, namanya SIMILIKIMI.”

“Apa yang kau bicarakan?”

“Apa yang hendak kau katakan hingga mengajakku menonton?”

“Hmpppfff…” desahnya, “Apakah segala sesuatu selalu harus kau hubungkan dengan uang?”

“Ya.” Kataku cepat, “Apakah kau tidak bisa melihat konteksnya? Aku butuh uang buat membayar kos, untuk makan dan sekarang aku duduk dalam bioskop menonton sebuah film bersama seorang laki-laki dengan ancaman dipecat?”

“Intinya laki-laki?” tanyanya kemudian, “Bagaimana jika yang mengajakmu menonton seorang perempuan?”

“Akan kupikirkan.”

“Bagaimana jika perempuan itu, Adriana?”

“Akan kupikirkan dengan lebih keras.”

“Baiklah, kita sama, kita laki-laki dan selalu berkorban untuk kaum hawa.” Katanya kemudian seraya mengeluarkan sebuah amplop berwarna putih. “Adriana menunggumu.”

“Adriana?”

“Ya, dia memintaku membelikan tiket pesawat ini, dia tahu kau tak punya uang sepeser pun, maka aku rela berkorban untuknya dan membelikanmu tiket. See? Pengorbanan yang sama kan? Dan entah untuk apa.”

“Di mana dia?”

“Pecahkan teka-tekinya, begitu aturan mainnya bukan?”

“Jadi aku tak perlu menonton bersamamu sampai filmnya habis kan?”

“Sepertinya.”

“Sepertinya?”

“Karena kau harus mengejar pesawat.”

“Mengejar pesawat?” kataku, “Aku bisa dipecat!”

“Itulah pengorbanan kawan.”

“Baiklah kalau begitu. Aku pergi.”

“Sebentar.” Kata laki-laki itu, ia melepas syalnya, “Berikan pada Adriana.”

Aku buru-buru meraih syal yang tadi menggubet lehernya dan menariknya perlahan. “Oke.” Sahutku seraya berlalu.

*

“Nenek saya meninggal pak.”

“Innalillahi.”

“Saya harus ke…” aku melirik ke amplop yang diberikan Si Zara Boy, tertulis CGK-JOG.

“Kemana?” tanya manajer Valet. “Mau nyusul nenekmu?”

“Jog..”

“Jogja?”

Nah! “Jogja pak.”

“Baiklah.” Kata si manajer, “Saya turut berduka cita.”

“Tapi, maaf pak.”

“Ya?”

“Bisa saya kasbon?”

“Apa?!”

“Kas…”

“Anda ini baru bekerja bahkan belum sampai satu hari penuh udah mau kasbon?!”

“Tapi nenek saya…”

Akhirnya si manajer mengeluarkan dompetnya sendiri. “Baiklah, ini uang dukacita dari saya, bukan kasbon!” katanya seraya menyodorkan selembar uang seratus ribu. “Sudah?”

“Tapi kasbonnya pak?”

“Nah itu tadi?”

“Ini kan uang duka cita pak, saya tetap mau kasbon…”

Sang manajer berkerut, lalu membuka laci meja kerjanya.

*

Dengan dua puluh ribu rupiah. Kini aku menumpang bus Damri terakhir dari Blok M tujuan bandar udara Soekarno-Hatta. CGK. Penerbangan terakhir Lion Air tujuan Yogyakarta masih dua jam lagi. Aku tak sempat berganti baju, bahkan tak sempat mampir ke kos dan membawa baju. Aku masih berseragam Valet. Menggenggam tiket dan uang tiga ratus delapan puluh ribu dicelana. Seratus ribu  –terpotong dua puluh ribu untuk ongkos Damri, adalah uang duka cita –nenekku telah tiada, jadi kalau pun meninggal untuk kedua kali mungkin tak akan ada yang menangisi. Dan tiga ratus ribu adalah uang kas bon. Sempurna bukan?

Phone A friend.

Aku mencari di phone book.

SOBAR.

Lalu menekan panel hijau.

“Hai.. jika Anda menginginkan nada sambung ini, tekan bintang!”

Terlalu sadis caramu…

Menjadikan diriku…

Pelampiasan cintamu…

Tak ada jawaban.

Sekali lagi. Aku kembali menekan panel hijau.

CALL.

“Hai.. jika Anda menginginkan nada sambung ini, tekan bintang!”

Apa salahku, apa salah ibuku?

Hidupku dirundung pilu..

*

Para penumpang yang terhormat. Aturan penerbangan sipil mewajibkan kami untuk menunjukkan prosedur keselamatan…

Aku memperhatikan pramugari yang berdiri semeter dihadapanku. Dia cantik. Dan, dia tampak seperti Adriana. Ah sebentar lagi aku akan bertemu kembali dengan gadis itu. Gadis yang tak mudah ditemui begitu saja karena harus selalu memecahkan teka-teki terlebih dahulu. Aku segera meraba sampul buku tulisan Sobar yang aku bawa dari sedan Si Zara Boy.

Para penumpang yang terhormat. Pesawat akan segera lepas landas, demi keselamatan penerbangan kami akan mematikan lampu kabin. Anda dapat menyalakan lampu di atas kepala Anda bila hendak meneruskan membaca.

Aku segera menekan panel diatas kepalaku. Sebuah lampu kecil menyala. Lalu aku membuka sampul buku ADRIANA-MAMEN yang kugenggam sejak tadi. Di halaman pertama, halaman sampul, sederet kalimat teka-teki itu tertera. Tertulis dengan tinta hitam dengan sempurna. Aku membacanya lagi, dengan lirih. Tepat ketika badan pesawat mulai bergerak dengan kencang melesat menuju langit malam. Terbang!

“Dari tempatku berbaring, aku melihat kepala-kepala sang Pangeran bergelimpangan dan menghilang. Dari Istana Keheningan aku memandang puncak Nirwana, menunggumu hingga malam menjelang. Aku yang mengharapkan kedatanganmu adalah Adriana.”

**

 

20 Comments »

  1. Glenny said,

    cant wait for next chapter….
    berteka teki dengan cerita sekaligus membuat pembaca berteka teki si memen ini teka teki ap c yg di maksud???

  2. chicko said,

    and the story goes…. nice to know there’s one special blog for this novel…

    pertamax kah gw..?!

  3. [...] This post was mentioned on Twitter by Chicko Foster, Nita Prastawaningrum. Nita Prastawaningrum said: Loves it! As always :) RT @captainugros: The Lucky Buddha; Bab 1; Baca disini: http://luckybuddha.wordpress.com/1-exordium/ [...]

  4. maur si caur said,

    menyenangkan bisa membaca secuplik novel baru anda lagi, capt!

  5. doz said,

    tdk sbr utk brtemu adriana

  6. kha said,

    great! like it.

  7. eni said,

    Awesome! udah jadi aja neh bagian pertamanya. aku tau dimana mereka akan bertemu. Cihuy!

  8. Jia said,

    oh, i wish i could publish the second series of these. :D
    well done

  9. dendi said,

    finally fajar nugros is back.
    ditunggu lanjutannya

  10. Dansapar said,

    Mariii pergiii menuju jogja …
    Lalu melihat sunrise dari puncak nirvana di borobudur
    Bookmark ah blog ini. :D

  11. Asiah said,

    wow… another level of writing Gros… ini kayak bukan loe. But still i like it!!!

    @Jia: untuk yang satu ini gue serahin ke loe aja yaaa hehe.. (am not gonna be here anymore, as u know that) :)

  12. Keren Om Nugros, lanjutin chapter 3 yah!
    *yg 2 udah kebaca duluan.

  13. GaL said,

    Huwee senang nya membac anama-nama Mamen, Sobar and Adriana lagi!SUMPAH

  14. ria said,

    bikin kangen sama kampung halaman.. sekarang..

  15. elianacandra said,

    A stunning opening.

  16. pia said,

    aku baru tau, dan oh, kenangan adriana mamen memuncak lagi,,,, penasaran itu datang lagi!!!! suka!

  17. mmychan said,

    WEWSOME!! let’s start it over again…

  18. Ariefl Ilham said,

    gw baru aja selesai baca bukunya Sidney Sheldon yg The Doomsday Conspiracy.. dan itu adalah buku yg susah lepas dari tangan gw dari pertama kali gw buka halaman cover sampe akhir.. entah kenapa, gw ngerasa sensasi yg sama pas baca cerita berteka-teki lo macem ini. God job man!!

    try some thriller nex time.. ;)

  19. ria said,

    aku nunggu2 in kapan bisa baca lagi kelanjutannya..

  20. cendera said,

    haha gudlak mamen! baru baca nih capt..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.