10. Dialog Para Pencuri

“Kau punya pacar Koes?”

Koeswoyo berpaling kearah Mamen. Tak ada jawaban.

“Nggak harus dijawab sih.”

“Kenapa begitu?” tanya Koeswoyo.

“Ya, siapa tahu kau nggak mau jawab.”

“Aku baru akan menjawab.” Ujar Koeswoyo, “Tapi kau membuatku menjadi malas untuk menjawab.”

“Hahaha!” Mamen tertawa, “Ngeles yang bagus.”

“Sampeyan punya pacar Men?” Koeswoyo balik bertanya.

“Kelihatannya?” balas Mamen, “Gimana?”

“Yah…”

“Aku ingin punya pacar Koes.” Jawab Mamen, “Pacar yang cantik dan pintar.”

“Siapa yang enggak?”

“Pacarannya pun sederhana.”

“Siapa yang mau rumit?”

“Aku mencintainya, dia mencintaiku, malam Minggu bersama, makan lalu nonton.”

“Umumnya begitu bukan?”

“Tapi selalu saja rumit.”

“Adriana rumit?”

“Sangat.”

“Bisa ditebak.”

“Wajahnya, senyumnya, semuanya begitu sempurna.”

“Tentu saja, jika tidak kau takkan sampai jauh ke Jogja.”

“Tapi awalnya begitu sederhana Koes.”

“Ceritakan padaku.”

“Aku bertemu dengannya di lift Perpustakaan Nasional.”

“Di Jakarta?”

“Ya.” Jawab Mamen, “Dia berdiri disebelahku dengan memeluk tumpukan buku, kami bersenggolan dan bukunya jatuh di karpet lift.”

“Klasik.”

“Begitulah.”

“Lalu?”

“Kau tahu, hal-hal sederhana biasanya berakhir dengan sesuatu yang luarbiasa?”

“Ya.”

“Aku hanya ingin bertemu lagi dengannya, tapi segalanya tak berjalan mulus, dia mulai memberiku teka-teki yang harus kupecahkan bila aku ingin bertemu kembali dengannya.”

“Wah!”

“Sangat melelahkan.”

“Well, tak selelah Gunadharma kan?” sahut Koeswoyo, “Juga tak perlu membuat seribu candi dalam satu malam.” Tambahnya, “Atau membangun Istana selama dua puluh tahun penuh.” Lanjutnya lagi, “Hanya untuk menyatakan cinta.”

*

“Kau punya pacar Koes?”

“Punya.”

“Dimana dia?” tanya Mamen, “Kenapa kau tak memperkenalkannya padaku?”

“Untuk apa?”

“Yah well, kenalan aja.”

“Mungkin belum waktunya,” jawab Koeswoyo, “Lagi pula, aku tak tahu dia dimana.”

Mamen terkejut, lalu menoleh pada Koeswoyo. “Maksudnya?”

“Ya aku nggak tahu dia dimana?” jawab Koeswoyo.

“How come?” balas Mamen, “Kau kan pacarnya?”

“Oh come on Men!”

“Come on what?”

“Aku kan sama sampeyan seharian kemarin, lalu kita mengejar si Adriana itu, dan berakhir di penjara ini?”

Mamen terdiam. “Benar juga.” Kata Mamen kemudian, “Tapi pasti dia sedang mencarimu sekarang ini.”

“Nggak juga.”

“Ha?”

“Buat apa?”

“Aku nggak ngerti.”

“Aku juga.”

“Jadi sebenarnya kau punya pacar apa enggak?”

“Enggak.”

*

“Kau punya pacar Koes?”

“Enggak.”

“Kenapa?”

“Baru putus aja, jadi lagi nggak pengen punya pacar.”

“Oh.”

“Kami jadian di Alun-alun Selatan.” Kisah Koeswoyo.
“Alun-alun Selatan?”

“Ya, ada dua beringin besar di Alun-alun Selatan Kraton,” lanjut Koeswoyo, “Dan kepercayaannya, jika kau bisa berjalan diantara kedua beringin besar itu, dengan mata tertutup, kau akan mendapatkan segala keinginan.”

“Begitukah?”

“Dan aku mencobanya.” Ujar Koeswoyo.

“Kau berhasil melewati beringin itu?”

“Aku katakana pada gadis itu, aku akan membawamu melewati dua beringin itu, jika berhasil, berarti akulah teman seperjalananmu mengarungi hidup.”

“Oh..” desah Mamen, “Kau katakan itu?”

“Lalu aku menggandeng tangan gadis itu, mata kami tertutup oleh kain hitam.” Kisah Koeswoyo terhenti, ia menarik nafas dalam, lalu melanjutkan kisahnya lagi setelah mengeluarkannya, “Aku berhasil membawa gadis itu melewati dua beringin. Sejak itu kami pacaran.”

“Oh well, awesome!” seru Mamen seraya bertepuk tangan, plok! Plok! Plok!

*

“Lalu kenapa putus Koes?”

“Aku rasa, karena aku dan pacarku hari itu jalan-jalan ke Candi Prambanan.” Jawab Koeswoyo.

“Maksudnya?”

“Kau tahu, jika ada pasangan yang pergi ke Candi Prambanan, biasanya akan putus dikemudian hari.”

“Jadi besoknya, setelah kau pergi ke candi itu, kau putus dengan pacarmu?”

“Tidak.”

“Lalu?”

“Bahkan tak menunggu besok.”

“Hari itu juga?” tanya Mamen, “Kau putus di hari yang sama setelah kau pergi dengan pacarmu ke candi itu?”

“Ya.”

“Oh hell!”

“Oh dia tidak di neraka.” Potong Koeswoyo, “Aku rasa dia di surga.”

Mamen tercenung lalu bertanya dengan cepat; “Kenapa putusnya?”

“Sebuah bus antar kota antar propinsi menghantamnya ketika menyeberang jalan, tepat di depan kompleks candi itu.”

“Ha?!”

*

“Kau punya pacar Koes?”

Koeswoyo tak menjawab.

“Kau punya pacar Men?”

Mamen tak menjawab.

“Kenapa kalian banyak bicara?” tiba-tiba terdengar sebuah suara dari balik jeruji besi. “Malam-malam ngomongin pacar!”

Mamen dan Koeswoyo terdiam.

“Bapak punya pacar?” tanya Mamen pada Polisi penjaga yang berdiri di depan sel mereka.

“Tidak.” Jawab Polisi itu, “Tapi saya punya istri.”

“Well, selamat buat bapak.” Sahut Koeswoyo.
“Sungguh malang nasib kalian,” ujar Polisi itu, “Pacar tak punya, sekarang mendekam di penjara, tak ada yang kehilangan.” Lanjutnya, “Lain kali, curilah hati perempuan, jangan mencuri candi!” tambah Polisi itu seraya pergi berlalu. Tapi baru beberapa langkah, Polisi itu menoleh ke dalam sel dan berkata;

“Tapi, mana ada cewek yang mau jadi pacar pencuri patung Buddha?”

*

7 Comments »

  1. Jia Effendie said,

    Gosh, Fajar!

    *ngikik2 sendiri baca yang ini*

  2. Hahaha… Yg ini cukup santai setelah beberapa chapter penuh keseriusan dan sejarah.

    Lanjut Capt, I’ll waiting for next chapter ^^,

  3. milla said,

    lanjutannya mana neh jar???

  4. eni said,

    kasian koeswoyo tragis bgt.

  5. fiza said,

    penasaran sama nama asli mamen. sama mercedes zara boy ketuker2 warnanya .hitem apa silver jadinya yaa.

  6. Vania said,

    Keren bgt broo..kl ak mw jdiin ini nskah teater copyrightnya ke siapa ya? Ak suka ngedirect teater soalnya..dtgu follow upnya..:) tq

    • luckybuddha said,

      Dear Vania,
      Bagian mana yg mau kamu jadikan naskah teater?
      Ini cerita bersambung yg belum selesai.
      But, prinsipnya, bisa bebas kamu eksplor dan adaptasi kok, asal tidak komersil, sebebas-bebasnya hanya tinggal memberi saya undangan pementasan saja :)

      Salam,
      Nugrs


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.