3. Singgasana Maut
Becak itu dikayuh dengan kecepatan tinggi. Menyusuri jalanan Jogja yang sempit dan penuh dengan berbagai macam jenis kendaraan. “Aku akan membawa sampeyan ke sebuah tempat!” teriak Koeswoyo dari tempatnya duduk mengayuh becak. Mamen hanya diam tak berkomentar, kedua tangannya kuat-kuat mencengkram besi pegangan becak, sementara pantatnya bergeser-geser di tempat duduk penumpang.
Koeswoyo menurunkan kecepatan becaknya hanya pada saat berbelok dan mulai memasuki riuhnya Pasar Burung Ngasem. Setelah keluar dari keramaian pasar, Koeswoyo membelokkan becaknya ke arah Timur menuju Alun-Alun Utara Kraton Yogyakarta. Mamen yang buta situasi dan peta hanya berdoa semoga segala sesuatunya akan baik-baik saja.
“Bayar tiga ribu untuk tiket masuknya!” teriak Koeswoyo, aku akan memarkir becak ini dibawah pohon sana. Mamen melompat turun dan berlari menuju loket masuk Kraton. Ia membeli dua potong tiket tanpa membayar biaya pengambilan gambar, Mamen tak membawa kamera apapun, handphonenya pun tak berkamera.
Sesaat kemudian Koeswoyo menghampiri Mamen yang sudah berdiri di depan pagar masuk Kraton. Saat itu jam belum menunjukkan pukul sepuluh, pengunjung Kraton masih sepi. Hanya ada sepasang wisatawan bule yang ditemani seorang pemandu berpakaian batik tampak tengah melangkah menuju arah yang dituju Koeswoyo dan Mamen. Tapi Koeswoyo mengambil jalan pintas, tidak perlu melewati jalur wisatawan. “Kita hanya punya waktu sampai matahari terbenam kan?” kilah Koeswoyo seraya berjalan dengan sangat cepat mendahului Mamen.
“Kemana kita?” tanya Mamen.
“Tanah Tinggi.” Jawab Koeswoyo dengan cepat tanpa menoleh kepada Mamen yang tertinggal dua langkah dibelakangnya. Mamen bukannya kalah cepat melangkah, namun perhatiannya teralih pada kompleks kraton yang megah itu. Beberapa lelaki tua berpakaian adat Jawa dengan memakai blangkon di kepala tampak duduk bersila diatas tanah, tangan mereka menyembah-nyembah. “Apa yang mereka sembah?” tanya Mamen setengah berbisik ketika keduanya telah berjalan sejajar.
“Sebentar lagi kau akan lihat.” Terang Koeswoyo. “Dari tempatku berbaring, aku melihat kepala-kepala sang Pangeran bergelimpangan dan menghilang. Dari Istana Keheningan aku memandang puncak Nirwana, menunggumu hingga malam menjelang. Aku yang mengharapkan kedatanganmu adalah Adriana.” Tiba-tiba Mamen mendengar Koeswoyo mengucapkan teka-teki itu. Hebat! Bisik Mamen, si Koes bisa mengingat dengan cepat kalimat sepanjang itu. Pasti dia bukan orang biasa. Dan jika ia orang biasa, setidaknya Koes pernah sekolah.
“Disini tempatnya.” Kata Koeswoyo tiba-tiba, kami berhenti di puncak tangga yang mengantar kami pada halaman yang lebih tinggi. Di halaman itu berdiri sebuah bangunan berbentuk joglo yang sangat besar tanpa dinding, hanya tiang-tiang. Ditengah-tengah joglo itu teronggok sebuah kursi berwarna emas. “Ini Siti Hinggil atau dalam bahasa sampeyan artinya Tanah Tinggi.” Terang Koeswoyo layaknya seorang pemandu wisata. Telingaku terus mendengar keterangan si Koes, tapi mataku berhenti pada kursi bersepuh emas itu. “Dan itu, singgasana Sultan.”
“Keren!” seru Mamen.
“Aku akan bacakan lagi teka-tekinya,” kata Koeswoyo, “Dari tempatku berbaring, aku melihat kepala-kepala sang Pangeran bergelimpangan dan menghilang. Dari Istana Keheningan aku memandang puncak Nirwana, menunggumu hingga malam menjelang. Aku yang mengharapkan kedatanganmu adalah Adriana.”
“Aku juga ingat teka-teki itu Koes.” Kata Mamen. “Sekarang jelaskan kenapa kita ada disini.”
Koeswoyo menghela napas panjang, “Sekarang coba sampeyan balik badan, jangan melihat ke satu arah terus, singgasana itu akan tetap disitu selamanya. Balik badan sekarang!”
Mamen menuruti permintaan Koeswoyo, ia memutar badannya 180 derajat. “Kau lihat, dikanan kiri itu, persis diujung tangga tempat kita naik tadi ada dua buah joglo kecil, itu adalah joglo tempat pemenggalan kepala.” Terang Koeswoyo, “Itu menerangkan kalimat ‘aku melihat kepala-kepala sang Pangeran bergelimpangan dan menghilang’ dalam teka-teki itu kan?” ujar Koeswoyo. “Lalu dari singgasana itu, atau dari tempat kita berdiri ini, apa yang sampeyan lihat?”
Mamen memandang jauh ke depan, pandangannya melewati bangunan Joglo di hadapannya yang juga besar, terus ke depan melewati dua buah pohon beringin besar, terus lagi melewati perempatan ramai, terus lagi hingga matanya berakhir di puncak sebuah gunung. “Sebuah lanskap.”
“Ya, melewati pagelaran, melewati dua beringin di alun-alun, melewati perempatan kantor pos, melewati jalanan Malioboro, melewati puncak Tugu Jogja, dan berakhir di puncak Gunung Merapi.” Koeswoyo menjelaskan apa yang dilihat Mamen. “Sebuah lanskap, sebuah surga.” Katanya lagi, “Apa yang kau dengar ditempat ini?”
Mamen menajamkan pendengarannya, namun yang telinganya tangkap hanya desir angin dan gesekan dedaunan rimbun di tepian Tanah Tinggi itu, ia tak mendengar keriuhan sebuah kota diluar sana. “Istana Keheningan.” Bisik Mamen.
“Dari Istana Keheningan aku memandang puncak Nirwana.” Itu akhiran teka-teki yang diucapkan Koeswoyo lagi. “Sampeyan bayangkan jika sampeyan Pangeran Mangkubumi atau Sultan-Sultan sesudahnya yang duduk di singgasana itu.”
“Koes,” kata Mamen tiba-tiba. Koeswoyo menoleh dan memandangnya dengan tatapan penuh kemenangan, ia yakin teka-teki itu telah terpecahkan. Ada sunggingan tipis di sudut bibir Koeswoyo.
“Kita hanya perlu menunggu sampai perempuan yang kau cari itu datang, disini sebelum matahari terbenam, kenapa? Karena sebelum matahari terbenam tempat ini tertutup untuk umum, hanya dibuka sampai jam empat sore.” Kata Koeswoyo dengan cepat hingga Mamen tak kuasa memotongnya.
“Koes.” Kata Mamen lagi.
“Ya.” Jawab Koeswoyo.
“Kau benar-benar harus membaca bukuku deh.” Tukas Mamen.
“Kenapa?” tanya Koeswoyo, “Di bukumu ada soal Tanah Tinggi ini?”
“Kau berpikir persis seperti aku pada saat memecahkan teka-teki seperti ini Koes.”
“Aku nggak ngerti sama maksud sampeyan.” Kata Koeswoyo. “Teka-teki itu mudah sekali dipecahkan…” kata Koeswoyo, pikirannya mulai menggerakkan kakinya sendiri melangkah perlahan menyusuri tanah pasir. “Di tempat ini pada 19 Desember 1949 digunakan untuk peresmian Universitas Gadjah Mada. Kompleks ini dibuat lebih tinggi dari tanah di sekitarnya dengan dua jenjang untuk naik berada di sisi utara dan selatan. Di antara Pagelaran dan Siti Hinggil ditanami deretan pohon Gayam atau Inocarpus edulis atau Inocarpus fagiferus, famili Papilionaceae.” Gumam Koeswoyo.
“Koes..” sebuah suara memanggil. Tapi penarik becak merangkap pemandu wisata paruh waktu itu tak mendengar, “Koes…” suara itu memanggil lagi, mengalir pelan ke telinga Koeswoyo diatara desir angin dan gesekan dedaunan pohon Gayam yang rimbun. “Koes!” panggilan itu menjadi teriakan. Koeswoyo keluar dari lamunannya sendiri lalu menoleh ke asal suara, Mamen yang memanggilnya. Laki-laki berpakaian kemeja valet itu membuat Koeswoyo lemas, lututnya bergetar hebat.
“Apa yang sampeyan lakukan?!”
“Bacakan teka-tekinya lagi!” seru Mamen.
“Oh Gusti!” ujar Koeswoyo, bibirnya bergetar, degup jantungnya menjadi cepat.
“Bacakan Koes!” pinta Mamen lagi.
“Dari tempatku berbaring, aku melihat kepala-kepala sang Pangeran bergelimpangan dan menghilang…” ucap Koeswoyo dengan cepat. Tapi sebelum teka-teki itu selesai diucapkan, Mamen memotongnya.
“Berbaring Koes, dia berbaring…” kata Mamen.
“Turun dari singgasana itu!” Koeswoyo berseru. “Jangan duduk disitu!”
“Nah, siapa pun, Pangeran Mangkubumi atau pun semua Sultan setelahnya, tidak ada yang berbaring disini Koes.
“Turun dari singgasana Sultan itu!” teriak Koeswoyo, “Nanti kita kualat!”
“Berbaring Koes, bukan duduk!” sahut Mamen. “Kita salah, ini bukan tempatnya.”
“Turun!”
*
Wajah Koeswoyo masih terlihat pucat walau kami sudah berjalan jauh diluar pagar Kraton. Berkali-kali mulutnya komat-kamit entah melafalkan apa. Dia benar-benar orang Jogja yang menghormati Sultan dan kerajaannya. Dia laki-laki sederhana yang terpelajar. Aku bisa menilai dia terpelajar karena dia bisa menjelaskan berbagai hal saat kami berada di Tanah Tinggi tadi, juga menyebut nama latin dari pohon Gayam yang tumbuh di sekitar Tanah Tinggi itu. Dan satu lagi, dia sosok yang ramah, aku mengetahuinya saat kali pertama melihatnya di bandara semalam.
“Sampeyan gila ya?” katanya dengan nada rendah tak percaya. “Kalau sampeyan kualat gimana?” lanjutnya, “Nanti saya pasti kena getahnya juga.”
“Aku hanya ingin menunjukkan kesalahan elementer kita secara langsung Koes.” Kataku, “Aku banyak melakukan kesalahan seperti itu dulu.” Ucapku lagi, “Nggak teliti, malas mengerjakan pekerjaan rumah dan itu yang membuatku terlihat bodoh.”
“Iya, tapi sampeyan duduk di singgasana Sultan,” sahut Koeswoyo, “Dan itu sebuah kebodohan. Tidak semua orang bisa duduk disana Men.”
“Maaf kalau begitu,” jawabku.
“Pernah dengar pepatah dimana tanah dipijak disitu langit dijunjung?” tanyanya kemudian. Aku mengangguk. “Nah, kau harus menghormati tradisi dan budaya yang ada disini.” Tambahnya, “Kalau tidak, aku tidak akan menemanimu mencari perempuanmu itu.” Aku menatapnya dingin, rupanya Koeswoyo serius. Entah ketakutan, entah karena aku telah semena-mena kepada Sultan-nya.
“Ayolah Koes, itu hanya kursi!” ujarku, hanya kursi biasa Koes, walau saat aku duduk di singgasana tadi, aku seperti merasakan sesuatu. Tapi aku buru-buru membuang jauh perasaan akan sesuatu itu, toh jika aku ceritakan pada Koes pasti dia akan mendapat pembenaran bahwa kursi itu keramat atau sejenisnya.
“Iya, kursi Sultan.” Potong Koeswoyo membuyarkan pikiranku tentang kursi itu.
“Tapi Sultan kan manusia juga.” Jawabku cepat.
“Bukan!” potong Koeswoyo, “Sultan lebih dari itu, dia pemimpin negara sekaligus pemimpin umat, dia wakil Tuhan di bumi, karena itulah tahtanya berada di Siti Hinggil, Tanah Tinggi!” seru Koeswoyo dengan nada tinggi pula.
“Baiklah-baiklah, aku minta maaf.” Ujarku meredam keadaan yang bisa saja semakin tak terkendali. Tapi ternyata, Koeswoyo bisa mengendalikan emosinya.
“Dan karena aku pun salah, aku akan menemani sampeyan sampai menemukan perempuan itu.” ia mengucapkan itu dengan nada rendah, seraya menepuk pundakku. Perubahan drastis dari nada tinggi ke rendah yang sedikit membuatku heran, tapi kata-kata berikut yang keluar darinya menjelaskan sebabnya, “Lagi pula, sampeyan bukan orang sini, jadi pasti Sultan memaafkan kekurang ajaran tadi.”
“Thanks Koes.” Sahutku, “Kau seperti Sobar.”
“Yah, karena Sobar nggak ada disini bersama sampeyan, tampaknya akulah Sobar-nya disini, bukan begitu?”
Aku hanya tersenyum, “Dan kita kehabisan waktu, aku mendengar suara adzan dzuhur.”
“Adriana ada disini Mamen, dia menunggumu, disalah satu sudut kerajaan kecil ini.” Ujar Koeswoyo dengan nada suara kembali seperti sebelumnya, suara yang biasa aku dengar semalaman. “Dan aku memuji keberanianmu tadi.” lanjut Koeswoyo. “Dia duduk, bukan berbaring seperti dalam teka-teki itu.”
“Kau juga hebat Koes, bisa hafal nama latin pohon Gayam itu.”
“Ah itu biasa, kalau sampeyan teliti, ada papan kecil bertuliskan nama pohon dan bahasa latinnya. Tadi aku hanya membaca saja.” Balas Koeswoyo singkat.
“Oh ya? Sial!” seruku, “Tapi kau cukup tahu sejarah juga kan?” ujarku, “Buktinya kau tahu kalau Universitas Gadjah Mada dilahirkan ditempat itu.”
“Ya ampun Mamen! Semua orang Jogja juga tahu kampus itu mulanya berdiri di Kraton!”
“Wah!” ujarku lagi, “Tapi kalau bukan lulusan sekolahan, nggak akan secepat itu melafalkan bahasa latin nama pohon Gayam, sekarang saja aku sudah lupa.”
“Intinya apa nih?”
“Menurutku kau terpelajar Koes.”
“Ya dulu aku kuliah.”
“Di UGM?”
“Bukan.”
“Oh, dimana?”
“Apa menjadi temanmu harus melewati wawancara seperti ini?”
“Haha! Sial!”
*
Sekarang kami sudah berada di tempat Koeswoyo memarkir becaknya. “Boleh aku yang mengayuh?” tanyaku pada si Koes yang langsung menatapku. Ia hanya mengangguk dan melompat duduk di kursi bagian depan, tempat penumpang becak biasa duduk. Aku pun segera melompat ke kursi kemudi yang berada dibagian belakang, kakiku bersiap mengayuh. Becak melaju ke jalanan dengan tenang, walau tanpa tujuan, jujur saja, aku tak tahu harus menuju ke arah mana, sambil mengayuh pikiranku melayang pada Sobar. Sedang apa dia sekarang? Ah, bukan pertanyaan itu yang aku butuhkan, tapi ada pertanyaan yang lebih penting yang berhubungan dengan Sobar, jika Sobar yang disodori teka-teki seperti yang aku hadapi sekarang ini, apa yang dilakukannya? Bagaimana caranya berpikir?
“Ternyata enak ya duduk disini…” tiba-tiba aku mendengar suara Koeswoyo, kata-katanya itu memecahkan lamunanku. “Belum pernah aku duduk disini dalam keadaan becak berjalan seperti ini.” Tambahnya lagi. “Eh-eh.. kenapa berhenti?” Aku menghentikan becak, menepikannya dengan cepat dan melompat turun. “Ada apa?!” tanya Koeswoyo setengah berseru. Aku diam tak menjawab. “Sampeyan kenapa?” tanya Koeswoyo lagi seraya melompat turun dan menghampiriku, “Sampeyan kenapa?!” ia mengulangi lagi pertanyaannya seraya memegangi bahuku. “Mamen!” kali ini Koeswoyo mengguncang-guncang tubuhku, aku merasakan guncangan itu. Semakin lama-semakin keras membuat tubuhku bergoyang dengan dahsyat.
*
Drrr…
Drrrr…
Drrrrr…
Tanah bergetar hebat.
‘Gempa!’
‘Bukan, itu kereta api!’
‘Tidak, ini gempa!’
Tubuhku bergetar hebat.
‘Sampeyan kesurupan?’ sayup aku mendengar suara Koeswoyo. Tangannya terus mengguncang-guncang tubuhku. Tubuhku bergoyang semakin kencang, tanah yang aku pijak seakan bergerak kesana kemari. ‘Sultan itu wakil Tuhan di bumi…’ sayup-sayup aku mendengar suara Koeswoyo lagi. Dan kemudian aku melihat apa yang semestinya tak dilihat orang biasa, pandangan lurus kedepan, melewati dua beringin besar, melewati perempatan kantor pos, terus lurus melewati jalan Malioboro, jalan Pangeran Mangkubumi, dan puncak Tugu mengantarkan pandanganku tepat ke puncak Gunung Merapi. Gunung itu menyemburkan awan hitam ke udara dan memuntahkan lava yang maha dahsyat. Hewan-hewan berlarian kesana kemari menghindari kejaran lava pijar. Orang-orang pun tak ketinggalan, berlari menyelamatkan diri. Panik yang luar biasa terjadi. Bumi yang aku pijak bergetar dengan dahsyat. Langit seperti runtuh. Awan hitam dari gunung Merapi itu seolah mengejarnya. Bangunan-bangunan runtuh dan tertelan lahar. Orang-orang menjerit. Ditempatku duduk aku melihat semua itu, tanpa reaksi. Orang-orang yang berlarian itu sudah semakin dekat denganku, sebagian malah telah berkumpul di depanku, persis di ujung kakiku, mata ketakutan mereka menatapku meminta pertolongan. ‘Sultan itu wakil Tuhan di bumi… Adipati ing Ngalogo… Panatagomo… pemimpin di medan perang dan pemuka agama…’ aku mendengar suara Koeswoyo lagi.
PLAK!
Tiba-tiba sebuah tamparan menghantam pipiku dan seketika aku tersadar.
“Sadar Men!” seru Koeswoyo. Aku membuka mata. “Sampeyan kesurupan, ini minum dulu.” Koeswoyo menyodorkan sebotol air mineral, disekelilingku saat itu orang-orang telah berkerumun. “Makanya hati-hati kalau dilingkungan Kraton, salah-salah bisa kesurupan seperti ini kan?” kata Koeswoyo lagi saat aku meneguk air yang menyegarkan tenggorokanku itu. “Udah?” tanyanya, “Sampeyan baik-baik aja?” aku mengangguk cepat. Orang-orang yang mengelilingiku pun membubarkan diri. Aku mendapati diriku terbaring di trotoar.
“Koes…” kataku kemudian, setelah nafasku kembali normal.
“Ya Men,” jawabnya, “Sampeyan mau minum lagi?”
Aku tak menjawab pertanyaan Koeswoyo, tapi melanjutkan apa yang hendak aku katakan padanya, “Aku melihatnya Koes.”
Koeswoyo menatapku lekat-lekat. Mimik mukanya berubah dengan cepat. “Apa yang sampeyan lihat?” tanyanya kemudian dengan nada suara penuh kehati-hatian.
“Aku melihat apa yang dilihat Sultan.”
*
“Aku ingin mendengar penjelasan sampeyan.” Kata Koeswoyo. Itu permintaan yang telah dia ucapkan sejak setengah jam lalu, orang-orang Jogja ini memang penyabar, dan tetap memakai kalimat bernada rendah walau pun sudah meminta untuk kesekian kalinya.
“Begini..” kataku kemudian mengawali bercerita, tapi kemudian aku menghentikan kata-kataku selanjutnya karena tanah yang kupijak bergetar pelan. “Gempa?!” seruku setengah bertanya pada Koes. Tapi ekspresi muka Koes tak berubah sedikitpun. “Oh kereta api ya?” tanyaku kemudian. Ia mengangguk. Sinting sendiri deh!
“Jadi?” tanyanya kemudian disela deru mesin kereta api dikejauhan, kami sudah duduk dihalaman depan kamar kos Koeswoyo yang sempit itu.
“Semua bermula ketika kau duduk di jok penumpang becak dan aku mengayuhnya, aku sedang memikirkan tentang apa yang akan dipikirkan Sobar jika ia menghadapi teka-teki yang harus kita pecahkan ini.” Aku mulai bercerita.
“Lalu?” tanyanya.
“Lalu kau berkata bahwa duduk di jok penumpang becakmu itu ternyata menyenangkan, kau merasakan sensasi yang tak pernah kau rasakan sebelumnya karena selama ini kau duduk dibelakang dan mengayuhnya.” Lanjutku.
“Ya, aku merasakan itu.” jawab Koeswoyo.
“Nah, sekarang kau bayangkan sensasiku saat aku duduk di singgasana Sultan.” Ujarku, “Aku merasakan sensasi yang tak pernah dirasakan oleh hampir seluruh rakyat kerajaan ini Koes!” seruku, kulihat wajah Koeswoyo memerah. “Alam bawah sadarku terpancing oleh kata-katamu dan aku bagai orang kesurupan.”
“Masuk akal,” jawab Koeswoyo, “Sejauh ini, selama dua ratus tahun, hanya ada sepuluh orang saja yang duduk di kursi singgasana itu.”
“Oh, sekarang Sultan sudah sampai yang kesepuluh ya?” tanyaku, Koeswoyo mengangguk. “Dan aku beruntung bisa melihat apa yang kesepuluh Sultan itu lihat dari tempatnya duduk bertahta.” Lanjutku.
“Lalu apa yang kau lihat?” tanya Koeswoyo penasaran.
“Kau takkan percaya.”
*
“Selama dua ratus tahun sejak Pangeran Mangkubumi mendirikan kerajaannya, kira-kira sudah berapakali kerajaannya ini dihantam bencana?” tanya Mamen. Koeswoyo tampak mendengar dengan serius dan berusaha mengingat-ingat. “Gunung Merapi itu meletus dan menghanguskan banyak kehidupan, lalu gempa bumi yang meratabumikan segalanya?”
“Aku rasa sudah berkali-kali itu terjadi.” Jawab Koeswoyo.
“Berkali-kali?” tanya Mamen.
“Mulanya, Pangeran Mangkubumi membangun kerajaannya tidak ditempat yang kita datangi tadi.” terang Koeswoyo.
“Jadi Pangeran Mangkubumi sempat memindahkan pusat kerajaannya?”
“Ya, dari daerah Gamping di Barat sana ke tempat yang kita datangi tadi.”
“Apa alasan dia pindah?”
“Mungkin sama seperti alasan pindahnya Kraton Kasunanan Surakarta dari Kartasura ke tempatnya sekarang, sama-sama hancur dan membangun pusat kerajaan baru, tapi…”
“Tapi penyebab kehancurannya yang berbeda…”
“Ya, bukan karena pemberontakan seperti yang dialami kraton Surakarta, melainkan…”
“Bencana.”
“Bisa jadi Men.”
“Dan di tempatnya sekarang, singgasana para Sultan itu berada pada titik yang sangat aman dari ancaman apapun. Jarak aman dari letusan gunung, jarak aman dari banjir lahar, jarak aman dari serangan musuh yang datang dari laut.”
“Pangeran yang sangat pintar Mangkubumi itu.” puji Koeswoyo kemudian. “Dia benar-benar arsitek kelas dunia!”
“Aku setuju.”
“Sebagai arsitek, dia sadar bahwa pondasi awal sebuah bangunan, letak sebuah bangunan adalah penentu kekokohan bangunan tersebut melawan perubahan jaman. Jika pondasi dan rancangannya kuat…”
“Bangunan itu akan kokoh sampai sekarang.” Mamen memotong kalimat Koeswoyo. “Berarti untuk memecahkan teka-tekinya kita harus berpikir seperti cara berpikir Pangeran Mangkubumi.”
“Apa yang dipikirkan Pangeran Mangkubumi?”
“Ia menyukai lanskap ini.” Kata Mamen, “Sebuah lanskap indah yang sempurna.” Lanjut Mamen, “Tapi dibalik sebuah keindahan, pasti ada sesuatu yang mengancam dibaliknya.”
“Seperti bunga Mawar, indah dan berduri?” timpal Koeswoyo setengah bertanya.
“Ya, seperti perempuan-perempuan bertubuh indah yang harus menderita habis-habisan karena berdiet. Demi kesempurnaan.”
“Apakah perempuan itu sempurna Men?” tanya Koeswoyo tiba-tiba.
“Siapa maksudnya?” Mamen balik bertanya.
“Perempuan yang kita cari ini.” Koeswoyo menjelaskan pertanyaannya.
“Kenapa kau bertanya begitu?” Mamen kembali membalikkan pertanyaan.
“Karena sampeyan menyambung-nyambungkan omongan kita dengan perempuan.” Balas Koeswoyo, “Jadi pertanyaan itu tiba-tiba terlintas dibenakku.”
“Tentu saja, Adriana sosok yang sempurna,” jawab Mamen.
“Berarti perjuangan sampeyan keras sekali untuk mendapatkannya,” tukas Koeswoyo.
“Kenapa kau menyimpulkan seperti itu?”
“Tuhan!” jerit Koeswoyo, “Namanya juga perempuan cantik dan sempurna, pasti banyak laki-laki yang mengejar bukan?!”
Mamen terdiam.
“Kenapa kau diam?” tanya Koeswoyo, “Itu kesimpulan yang mudah.” Lanjutnya, “Ada perempuan cantik, perempuan sempurna, masak hanya satu orang petugas parkir yang menginginkannya? Memimpikan untuk memilikinya?”
“Koes…”
Koeswoyo menghentikan celotehannya dan buru-buru menatap Mamen. “Sampeyan mengulanginya lagi…”
“Mengulangi apa?”
“Sampeyan memanggilku seperti itu.”
“Seperti apa?”
“KOES…” Koeswoyo memanggil namanya sendiri, dengan nada persis seperti Mamen memanggilnya tadi. “Pertama sampeyan memanggilku seperti itu, sampeyan naik ke singgasana Sultan, lalu kedua kalinya sampeyan memanggilku begitu lagi, sampeyan kesurupan ditengah jalan!”
“Hahaha!” Mamen tertawa, lalu berusaha meledek Koeswoyo dengan merendahkan suaranya lagi dan berkata; “Koes…”
“Stop!”
“Koes…”
“Hentikan!”
“Koes… Gempa!”
“Bukan!”
“Gempa!”
“Itu kereta api!”
“Tapi mana suara deru mesin keretanya?!”
“Lari!” seru Koeswoyo seraya bangkit dari tempatnya duduk dan langsung mengambil langkah seribu. Mamen masih terpaku ditempatnya berdiri sementara pada tempatnya berpijak, kakinya semakin merasakan getaran lembut yang perlahan mulai kencang. “Lari Men! Lariiii!” teriak Koeswoyo dari kejauhan.
*
“Sepertinya..” kataku seraya mengatur napas. Koeswoyo tampak melakukan hal yang sama, tapi kemudian ia menoleh kearahku dengan wajah ingin agar aku meneruskan kalimatku, “Sebentar, narik napas dulu…” ucapku. Kami berdua sekarang berdiri ditengah-tengah lapangan bola di belakang perkampungan tempat Koeswoyo tinggal. Beberapa orang memang keluar rumah karena goyangan tanah tadi, tapi langsung kembali lagi beraktivitas seolah-olah gempa kecil sudah menjadi kebiasaan sehari-hari.
“Sepertinya,” ucapku mengulang lagi, “Aku sudah tahu gimana caramu mengetahui bahwa tanah yang bergetar itu gempa atau kereta api lewat.”
“Sampeyan tahu sekarang?” tanya Koeswoyo.
“Ya.” Jawabku, “Jika ada getaran dan tak ada suara kereta api, maka sebaiknya lari.” Lanjutku.
“Pintar. Hahaha!” Koeswoyo tertawa lebar.
“Dan sepertinya aku mendarat di tempat yang benar tapi tahun yang salah.” Ujarku kemudian seraya mencari-cari warung penjual minuman terdekat. “Dan kita nggak punya banyak waktu lagi, hampir ashar.”
“Tahun yang salah?” tanya Koeswoyo.
“Ya Koes,” jawabku cepat, “Tahun yang salah.”
“Aku nggak ngerti, bisa sampeyan jelaskan lebih detail.”
“Bisa Koes, setelah kita minum es teh.”
“Okelah kalau begitu.”
*
Semua bermula dari Pemberontakan Pangeran Samber Nyawa. Sunan sadar bahwa pemberontakan sang pangeran itu semakin lama semakin merong-rong tahtanya. Maka, Sunan memutuskan untuk menempuh jalur damai dengan mengirimkan seorang utusan. Utusan ini mendadak dikenal memiliki kemampuan di atas rata-rata karena berhasil merancang Kraton Surakarta yang baru. Kemunculan orang-orang pintar memang bagaikan sebilah pedang yang memili dua sisi tajam. Satu sisi dapat diandalkan, namun disisi lain akan membahayakan.
Dan sebilah pedang dengan kedua sisi yang tajam itu bernama Pangeran Mangkubumi. Usai melaksanakan tugasnya meredam pemberontakan Pangeran Samber Nyawa, Mangkubumi menagih janji Sunan yang mengatakan bahwa jika Mangkubumi sukses meredam pemberontakan Samber Nyawa, Sunan akan memberikan tanah kekuasaan di wilayah Timur kerajaan, daerah bernama Sukowati. Tapi Sunan tak ingin Mangkubumi memiliki tanah kekuasaan sendiri. Sunan pun mengingkari janjinya. Mangkubumi pun geram dan akhirnya angkat senjata, memberontak pada Sunan. Pemberontakan Mangkubumi ternyata menjadi lebih dahsyat dari pemberontakan Pangeran Samber Nyawa. Apalagi Sunan tak lagi memiliki pengikut-pengikut yang dapat diandalkan seperti ketika Sunan memiliki Mangkubumi untuk meredam Samber Nyawa. Akhirnya, demi menjaga kelangsungan kerajaannya, Sunan mengajak Mangkubumi untuk berunding di sebuah desa bernama Giyanti.
“Logikanya begini,” kataku pada Koeswoyo yang sejak tadi mendengarkan dengan seksama. “Ketika aku berjanji padamu bahwa aku akan menceritakan isi buku pertamaku sebagai barter dengan upah pemandu wisata dan aku mengingkarinya, lalu kita berselisih, kemudian kita bernegosiasi lagi, apa yang kau tuntut dariku?”
Koeswoyo menjawab dengan cepat, “Aku akan meminta hakku, sampeyan menceritakan isi buku sampeyan.”
“Tapi ternyata aku tetap tak menceritakan isi bukuku.” Kataku lagi, “Apa yang akan kau lakukan?”
“Aku akan tetap menuntut hakku.”
“Maka perundingan itu menemui jalan buntu.”
*
Berhari-hari kedua kubu sama-sama mencari terobosan baru. Sebagai pihak yang diajak berunding, kubu Pangeran Mangkubumi sadar bahwa pihaknyalah yang diuntungkan karena memiliki posisi yang kuat di medan pertempuran. Jika perundingan gagal dan pertempuran demi pertempuran terjadi lagi, pihak Sunan yang semakin lemah bisa jadi akan kalah.
Tapi pagi hari itu, keadaan di desa Giyanti yang semula sunyi namun penuh ketegangan sejak hadirnya dua kubu yang tengah berunding, dipecahkan oleh suara riuh derap kaki kuda. Sekitar tiga puluh laki-laki datang menunggangi kuda-kuda mereka yang hitam dan kekar. Menunggang kuda paling depan adalah Pangeran Mangkubumi. Melihat kehadirannya, penduduk desa Giyanti membungkuk hormat. Mangkubumi membalas salam dari penduduk desa dengan mengangguk-anggukan kepalanya.
Di tengah desa, pada sebuah tanah lapang yang luas, tak jauh dari rumah kepala desa, berdiri sebuah tenda besar dengan bendera-bendera berwarna-warni, namun ada satu bendera berwarna kuning dengan lambang mahkota. Rombongan Pangeran Mangkubumi berhenti tak jauh dari tenda itu. Sang Pangeran melompat turun dari kudanya diikuti para pengikutnya, namun Mangkubumi mengangkat tangan kanannya, ia tak ingin para pengikutnya mengikuti langkahnya mendekati pintu masuk tenda yang hanya dijaga dua pengawal Sunan bersenjata senapan. Dengan langkah kaki yang mantap, diikuti pandangan khawatir dan risau para pengikut setianya, Pangeran Mangkubumi melangkah masuk ke dalam tenda.
“Kepada Sinuhun Sunan saya Pangeran Mangkubumi datang untuk memenuhi undangan Sinuhun.” Kata Pangeran Mangkubumi dengan nada suara rendah seraya membungkukkan badannya, memberi hormat pada Sunan yang duduk di singgasananya, ditengah-tengah tenda. Sinuhun hanya mengangkat tangan kanannya pertanda menerima salam Mangkubumi.
“Mangkubumi.” Kata Sunan seraya menarik nafas panjang. “Terimakasih atas kedatanganmu.” Lanjutnya lagi. “Seperti kita ketahui, perundingan yang tengah berlangsung diantara kita semakin berlarut-larut.”
“Benar Sinuhun.” Jawab Pangeran Mangkubumi tetap dengan nada penuh hormat.
“Nah, aku tidak menginginkan itu Mangkubumi,” ujar Sunan. “Aku ingin perundingan ini cepat selesai dan aku bisa kembali ke Kraton dengan tenang.”
“Saya juga menginginkan hal yang sama Sinuhun.” Jawab Pangeran Mangkubumi.
“Nah, karena kamu bersikeras dengan permintaanmu.”
“Saya hanya menuntut apa yang sudah Sinuhun janjikan kepada saya sebelumnya.”
“Ya ya, aku mengerti Mangkubumi,” tukas Sunan seraya mengibaskan tangan kanannya, “Karena itu hari ini aku memanggilmu.”
Usai Sunan berkata-kata, seorang penasehat Sunan melangkah ke hadapan Pangeran Mangkubumi dan membuka sebuah gulungan kertas besar berwarna coklat. Pangeran Mangkubumi memandangi kertas yang terbuka dengan keempat sisi diganjal oleh batu berukir berlambang kerajaan agar tak mudah tergulung itu. “Kau lihat peta itu Mangkubumi?” tanya Sunan kemudian, “Titik merah besar itu adalah posisi Kratonku.” Lanjutnya, “Titik hijau di Timur Kratonku itu adalah tanah Sukowati yang kau inginkan.” Kata Sunan menyelesaikan kata-katanya, untuk kali pertama sejak kedatangan Pangeran Mangkubumi, Sunan turun dari singgasananya lalu melangkah mendekati Pangeran Mangkubumi. Kini, keduanya hanya terpisah oleh peta yang tergelar diatas meja kayu jati berukir. “Nah, Mangkubumi saudaraku.” Kata Sunan lagi seraya meraih tongkat emas yang tergeletak di meja. “Aku ingin kau melupakan tanah Sukowati yang aku janjikan padamu itu.”
“Maaf Sinuhun, jika tetap begitu kehendak Sinuhun, lalu untuk apa saya menghadap kemari?”
Sunan mengangkat tongkatnya tinggi-tinggi. “Jangan potong kata-kata seorang Raja, Mangkubumi.” Pintanya. “Aku ingin kau melupakan Sukowati karena aku akan memberimu tanah peninggalan leluhur kita.” Lanjut Sunan seraya menjatuhkan tongkatnya diatas peta, lalu membuat gerakan memutar sebesar kepalan tangan laki-laki dewasa. “Disini. Di Barat Kratonku.” Kata Sunan lagi, ujung tongkatnya terus membuat gerakan memutar yang diikuti oleh sudut mata Pangeran Mangkubumi. “Lebih luas berkali-kali lipat dari tanah Sukowati yang aku janjikan padamu dulu Mangkubumi.” Terang Sunan, “Diantara gunung dan laut, diantara Kratonku dan matahari terbenam.” Tambah Sunan, “Bagaimana Mangkubumi, kau mau?”
*
“Dan Pangeran Mangkubumi menerima tawaran Sunan itu.” desis Koeswoyo. “Padahal tawaran itu adalah sebuah jebakan.” Lanjutnya seraya menyimpulkan.
“Analisis yang pintar!” seruku. “Luas wilayah yang lebih besar dari yang semula dijanjikan tentu sangat menggiurkan. Sunan memberikan tawaran yang tidak bisa ditolak.”
“Sunan juga menyebut tanah itu sebagai tanah leluhur,” kata Koeswoyo, “Tempat leluhur Sunan dan Pangeran Mangkubumi, Dinasti Mataram dulu berdiri.” Ujar Koeswoyo lagi.
“Sunan juga memberikan wilayah yang lebih luas dibanding tanah Sukowati.” Timpalku.
“Padahal sesungguhnya, jika tanah itu bagaikan surga, kenapa Dinasti Mataram memindahkan pusat kerajaannya dari sini dan jauh ke Timur di Kartasura?” tanya Koeswoyo.
“Hanya satu jawabannya Koes.” Ujarku.
“Tanah penuh marabahaya.” Tukas Koeswoyo.
“Yes.” Sahutku cepat. “Sunan sadar bahwa Pangeran Mangkubumi tak bisa ditaklukan oleh pasukannya.” Ujarku kemudian, “Maka Sunan dengan pintar menghidangkan musuh-musuhnya itu pada kekuatan yang lebih besar.”
“Kekuatan alam.” Timpal Koeswoyo.
“Dan Pangeran Mangkubumi sempat hampir luluh-lantak ketika bencana yang entah berbentuk apa, bisa gempa bisa ancaman Gunung Merapi, menghantam pusat kerajaannya yang pertama sebelum ia memindahkannya di tempatnya berdiri sekarang.” Kataku.
“Sampeyan benar.” Jawab Koeswoyo, “Pangeran Mangkubumi belajar dari kesalahan pertamanya yang hampir fatal dan dengan kemampuannya sebagai arsitek dia membangun kembali pusat kerajaannya.” Lanjut Koeswoyo.
“Kau mengerti sekarang Koes?” tanyaku, “Apakah kau sudah melihat jawaban dari teka-teki itu?”
Koeswoyo menggeleng lemah.
“Dari tempatku berbaring, aku melihat kepala-kepala sang Pangeran bergelimpangan dan menghilang. Dari Istana Keheningan aku memandang puncak Nirwana, menunggumu hingga malam menjelang. Aku yang mengharapkan kedatanganmu adalah Adriana.” Aku kembali mengucapkan teka-teki itu. Aku menghafalnya diluar kepala sekarang. “Dengar Koes kata teka-teki itu, aku melihat kepala-kepala sang Pangeran bergelimpangan…”
“Bergelimpangan bukan karena dipenggal, tapi karena hantaman bencana?”
“Bisa jadi.” Jawabku. “Dan jika Dinasti Mataram era Sultan Agung berhasil menyelamatkan kerajaannya dari ancaman bencana dengan memindahkan diri ke Kartasura dan aman berdiri hingga menjadi Kasunanan Surakarta seperti sekarang. Sedang Pangeran Mangkubumi karena kemampuan dan kepandaiannya berhasil menyelamatkan kerajaan dan rakyatnya hingga kau bisa lahir dan dewasa dan berada didepanku seperti saat ini…” ujarku panjang, “Itulah yang aku lihat saat duduk di singgasana Sultan.” Lanjutku, “Ketika bencana itu datang, orang-orang berlarian mendekat pada rajanya, berkumpul di halaman kerajaan dan awan panas gunung tak mampu menjangkaunya, lahar-lahar panas juga tidak membanjiri wilayah kerajaan namun mengalir lewat sungai-sungai itu.”
“Oh ya?”
“Butuh sebuah perhitungan matang untuk merancang semua itu bukan?” ujar Koeswoyo dengan nada bertanya.
“Dan Pangeran Mangkubumi yang pandai itu berhasil meramu strategi tempur yang luar biasa, bukan untuk melawan pasukan Sunan tapi menghadapi lawan yang kekuatannya lebih dahsyat.” Simpulku. “Kekuatan alam.”
“Artinya…”
“Artinya, jika kau melihat seorang perempuan cantik bersanding dengan seorang laki-laki tampan…” kataku, “Kau pasti bisa menemukan ada laki-laki lain yang patah hati karena perempuan itu.”
“Maksudnya?” tany Koeswoyo.
“Maksudku, jika Pangeran Mangkubumi sukses menaklukkan lanskap indah ini, tentu ada satu kerajaan lagi, sebuah dinasti besar yang gagal menyelamatkan diri dari hantaman bencana itu Koes!” seruku. “Jauh sebelum kekuasaan Pangeran Mangkubumi menguasai wilayah ini, jauh sebelum dinasti Mataram era Sultan Agung berada ditempat ini.”
“Aha!”
“Apa?”
“Aku tahu jawabannya!”
“Kau tahu Koes? Kau belajar sejarah juga seperti Sobar?”
“Bukan itu.” tangkis Koeswoyo, “Aku tahu bahwa kita harus mencari jawabannya!”
“Yah tentu saja kita harus mencari jawabannya.”
“Kita harus bertemu Sobar!” ujar Koeswoyo.
“Tapi aku tak tahu dia ada dimana. Dan walaupun Sobar tahu banyak tentang sejarah Jakarta, aku sangsi dia paham sejarah dinasti-dinasti kerajaan Jawa ini.”
“Itu dia,” balas Koeswoyo, “Kita harus menemui Sobar versi Jawa.”
“Yah!” seruku, “Kau benar!”
Kami berada di dalam sebuah warung bubur kacang hijau yang banyak membuka gerai di kota Jogja. Aku memesan segelas es teh dan Koeswoyo menyeruput kopi kentalnya. Berdua kami lalu menyantap semangkuk bubur kacang hijau sebelum memutuskan untuk keluar dari tempat itu dan menemui seseorang. Usahaku dan Koeswoyo mulai mendapatkan titik terang, walau aku yakin kami belum separuh jalan, sementara adzan ashar sudah terdengar. Waktunya sangat sempit jika Adriana hanya menungguku sampai matahari terbenam.
“Aku lelah sekali..” kataku pada Koeswoyo. Ia menatapku lekat-lekat.
“Saat kau lelah,” kata Koeswoyo kemudian, “Ingatlah satu hal..”
“Apa itu?” tanyaku.
“Senyum perempuan itu,” jawab Koeswoyo, “Senyum Adriana.”
**

Frezask said,
January 19, 2010 at 03:52
Whew, baru selesai baca. Saya suka kalimat terakhir, ‘Saat kau lelah, ingat senyum perempuan itu..’. Teruskan perjuanganmu, Mamen..
Jia said,
January 19, 2010 at 11:52
Aku serius pengen nerbitin ini. Kalau enggak cocok buat Atria, aku kasiin ke editor Serambi!
*ga sabar pengen baca terusannya*
dansapar said,
January 19, 2010 at 13:39
dan kerajaan yg gagal itu, dinasti besar itu, beda tahun dgn kerajaannya Pangeran Mangkubumi serta gagal menyelamatkan diri dari kekuatan alam itu, tp masak langsung ke sana sih.
err … apakah ibukota kerajaannya mataram kuno jg di sana ya. *jd mikir*
tapi, gue suka chapter ini, kombinasi kocak dan sejarahnya dpt =D
eni said,
January 19, 2010 at 13:47
wah ini mah bener2 belajar sejarah dgn cara yg asyik nanti kalo jd buku tiap siswa di Jogja harus punya, gile lengkap bgt aku aja yg orang Jogja asli gak tau sedetil ini.Thanks Capt!Awesome!
eni said,
January 19, 2010 at 13:54
wah ini bener2 belajar sejarah yg asyik, kalo udah jadi buku setiap siswa di Jogja harus punya.Awesome!Thanks Capt!
eni said,
January 19, 2010 at 13:55
Tar kalo jadi buku setiap siswa di Jogja harus punya neh.keren bgt baca cerita sekaligus belajar sejarah yg asyik bgt.!
Bunga Rawa Belong said,
January 19, 2010 at 17:06
Turut menikmati seluruh cerita ini. Asik juga yach, thanks for sharing sob…
elianacandra said,
January 19, 2010 at 22:31
Hou..hou..hou..you just blew my mind…
Untuk menuju jawaban teka-teki dan juga dinasti besar itu…kami semua dibawa dulu berkeliling keraton, Siti Hinggil, Perjanjian Giyanti dan berkenalan dengan Mangkubumi.
weeuww..
oijaw said,
January 21, 2010 at 08:17
Heuh..udah asar mash aja sempet minum es teh. Telat terus nanti. G layak dapetin adriana ah. *kesel sendiri krn g ktm2 adriana
GaL said,
January 22, 2010 at 08:43
Lanjut…semalam baca dr hape..pegel!!
Penasaran..dan bener ya jadi kangen Jogja euy
Dicky said,
January 26, 2010 at 20:34
Sampe disini gua ngerasa baca tulisan Dan Brown…tapi versi Indonesia…
Ariefl Ilham said,
January 26, 2010 at 22:26
klo udah jadi novel, terbitin juga versi bahasa inggrisnya gros.. bisa bikin turis2 tertarik utk dateng ke Jogja