5. Pangeran Tanpa Kepala
Hari itu pertengan bulan Januari, dimana semestinya langit malam berhias dengan bulan yang bersinar penuh. Namun awan gelap masih saja menggantung di sepanjang langit pesisir Utara Pulau Jawa.
“Akan hujan lagi.” Kata seorang laki-laki berseragam tentara dengan tali kekang yang mengendalikan empat ekor kuda tergenggam erat ditangannya. “Jika begini terus, jalan raya pos ini tak akan ada gunanya, kita akan tiba di tujuan dalam keadaan tua dan mengidap malaria!” lanjut laki-laki itu.
“Jangan menggerutu terus, pastikan saja kita tidak menabrak bebatuan dan membuat roda kereta hampir lepas seperti kemarin, atau kepala kita yang lepas dari badannya.” Sahut lelaki disebelahnya. “Aku rasa tak jauh lagi kita akan tiba di Semarang.” Peringatan koleganya itu membuat laki-laki yang memegang tali kekang kembali berkonsentrasi pada pekerjaannya. Ia meraih pecut dan menghantamkannya ke udara kosong diatas keempat badan kuda. Keempat kuda meringkik keras dan menambah laju lari mereka. Kereta kuda pun melaju semakin kencang, hampir membuat satu battalion pasukan berkuda yang mengawal dibelakangnya terkaget-kaget dan berusaha mempercepat lari kuda mereka.
*
“Telegram itu membuatnya datang kemari, dia meninggalkan istrinya yang tengah diserang demam dan melakukan perjalanan hampir empat hari dari Buitenzorg,” kata laki-laki bertubuh pendek, dengan wajah bulat serta berjanggut tipis itu. “Jadi aku harap kau menemukan sesuatu yang luar biasa untuknya.” Lanjutnya seraya menarik lengan laki-laki berseragam tentara dengan pangkat Kapten yang baru saja tiba dengan menunggang kuda, hujan yang turun sejak malam hingga pagi itu membuat hampir separuh seragamnya basah.
“Apa yang dia lakukan disini?” tanya sang Kapten dengan logat Inggris yang kental. “Apakah dia penganut Kristen dokter?”
“Aku tak tahu apakah dia penganut Kristen atau bukan, tapi bukankah kalian begitu, jika bukan Kristen ya Katolik?” Sang Dokter bertanya balik. “Tidakkah kau semestinya senang melihat gereja Kapten?”
“Maaf dokter,” balas Sang Kapten, “Tiba-tiba saya heran kenapa Anda bisa dekat dengannya, seingat saya Anda masih orang Belanda kan?” sindir Sang Kapten, “Dan kami orang Inggris, masih berperang dengan Anda.”
“Tak heran pangkatmu hanya ‘kapten’, Kapten.” Sahut laki-laki yang dipanggil ‘dokter’ itu, “Inggris tidak sedang berperang dengan Belanda, tapi tengah bertempur dengar Kongsi Dagang.” Lanjut sang dokter, “Bedakan itu dan kenaikan pangkatmu akan segera kau sambut.” Katanya mengakhiri perdebatan, sang Dokter lalu melangkah menuju bangunan gereja bercat putih itu, Sang Kapten buru-buru mengikuti.
Keduanya melangkah melewati kuda-kuda pasukan yang tertambat di pepohonan serta beberapa serdadu yang kelelahan namun tampak sangat waspada. Penjagaan demikian ketat, menandakan seorang yang sangat penting tengah berada di dalam gedung besar yang tengah dituju sang Kapten dan laki-laki itu. Sebuah bangunan persegi empat dengan kubah bulat yang sangat besar menjulang kearah langit malam yang semakin membiru terang. Orang-orang di kota Semarang kini menyebut gereja itu dengan sebutan Gereja Blenduk.
*
Dua serdadu yang menjaga pintu masuk gereja tampak memberi hormat pada kedua orang yang datang mendekat, lalu membukakan pintu gereja untuk mereka. Pintu kayu itu berderit pelan. Sang Kapten melangkah masuk diiringi laki-laki disampingnya. Pandangan pertama sang Kapten tertuju pada salib besar di ujung lorong, lalu perlahan matanya turun ke bagian bawah salib dimana tak jauh dari situ, tampak sesosok tubuh laki-laki tengah menekuk kedua kakinya, berdiri ditas lutut dengan kepala tertunduk sangat dalam. Berdoa.
Sang Kapten dan laki-laki disampingnya meneruskan langkah mereka menyusuri lorong dan berhenti lima langkah dibelakang laki-laki yang tengah berdoa itu. Suasana sangat hening dan kikuk karena Sang Kapten dan lelaki pengantarnya tak tahu harus bersikap bagaimana. Ikut berdoa, hanya menunggu, atau memberi salam agar sang laki-laki yang tengah berdoa itu mengetahui kedatangan mereka. Namun situasi kikuk itu tak berlangsung lama. Tiba-tiba sosok dihadapan mereka bangkit berdiri, memandang ke arah salib sebentar lalu membalikkan badannya. Sang Kapten langsung mengambil sikap hormat.
“Jenderal, sungguh senang bisa bertemu dengan Anda disini.” Kata Sang Kapten seraya menurunkan tangan kanannya dari arah dahi kanannya sendiri. Laki-laki yang berada dihadapannya bahkan tidak berpakaian militer lengkap, ia hanya mengenakan setelan jas hitam dengan kemeja putih berkerah tinggi menutupi leher, rambutnya tersisir rapi kearah kanan.
“Kapten.” Balas Sang Jenderal seraya menganggukan sedikit kepalanya. “Hampir sepuluh hari yang lalu, ketika saya tengah menikmati teh hangat di Buitenzorg, tiba-tiba datang sebuah telegram yang dikirim tiga hari sebelumnya dari kota ini.” Kata Sang Jenderal dengan aksen Inggris yang sangat anggun dan berwibawa. “Kau masih ingat isinya Dokter?” lanjutnya tanpa melirik kearah laki-laki yang berdiri disebelah Sang Kapten.
“Kami menemukan sesuatu yang sangat mengejutkan. Sebuah bukit batu yang misterius. Mohon petunjuk.” Kata Sang Dokter yang tampak sangat mengingat isi telegram itu.
“Saya pikir saya sedang bermimpi saat membaca telegram itu.” kata Sang Jenderal, “Tapi esok harinya, kembali datang telegram dengan isi yang kurang lebih sama. Bukit batu berukir yang sangat besar.” Kali ini Sang Jenderal mengatakan sendiri isi telegram itu, “Kemudian telegram ketiga; saya kira hanya Yang Mulia yang pantas melihat langsung keindahannya.” Sang Jenderal menghela nafas. Setelah menempuh perjalanan darat yang melelahkan, hampir tak tampak letih pada raut mukanya. “Saya percaya kau mengenal Olivia, Kapten?”
Sang Kapten mengangguk, “Semoga istri Anda dapat segera dipulihkan kesehatannya Tuan. Doa hamba untuk beliau.” Ucap Sang Kapten tak kalah sopan.
“Terimakasih.” Balas Sang Jenderal, “Dan karena kau tahu keadaan istriku yang sedang tidak sehat, dan telegram-telegrammu itu saat ini membuatku berada jauh ratusan kilometer darinya.” Kata Sang Jenderal lagi, “Aku percaya kau memiliki sesuatu yang luarbiasa untukku.”
“Saya yakin Tuan.” Balas Sang Kapten, “Anda akan terkejut saat melihatnya nanti.”
“Kau yakin Kapten?” tanya Sang Dokter yang sejak tadi diam dengan nada khawatir.
“Ya dokter,” jawab Sang Kapten.
“Tunjukkan.” Pinta Sang Dokter.
“Sayangnya, kita harus menempuh sehari perjalanan Tuan.” Balas Sang Kapten.
“Well,” sahut Sang Jenderal, “Baiklah Kapten, aku akan beristirahat sebentar dan sebelum tengah hari kita akan berangkat ketempat yang kau janjikan itu.” lanjut Sang Jenderal seraya melangkahkan kakinya yang terbungkus sepatu boot hitam meninggalkan Sang Kapten. “Kau ikut dokter?”
“Siap Jenderal.” Jawab Sang Kapten seraya berdiri tegak dan memberi hormat. “Saya senang sekali akhirnya bisa bertemu langsung dengan Anda.” Tambah Sang Kapten. Kata-kata itu membuat Sang Jenderal menghentikan langkahnya dan menoleh kembali pada Sang Kapten yang masih berdiri hormat. Sang Jenderal lalu mengangguk ramah. Melihat itu Sang Kapten buru-buru membungkukkan badannya seraya berkata; “God save The Queen, Sir Thomas Stamford Raffles.”
*
Sejak semula aku tahu takdirku.
Kalian masih ingatkan bahwa aku selalu terlambat?
Dan aku tak bisa berkelit dengan alasan bahwa teka-teki yang aku hadapi kali ini lebih berat. Tak ada Sobar pula disampingku. Yang ada hanya Koeswoyo, sosok yang berpikir hampir sepertiku saat pertamakali menemukan teka-teki semacam itu.
Kami. Tepatnya aku dan Koes meninggalkan becak milik Koes di terminal Terban. Koes mengajakku menumpang angkutan berkarat yang berjalan lambat jauh keluar dari Kota Jogja menuju arah Utara, menaiki lereng gunung Merapi.
“Kita akan terlambat Koes.” Bisikku pada Koes ketika kami duduk dikursi depan angkutan yang melaju pelan itu.
“Tidak ada pilihan lain Men.” Jawab Koeswoyo.
“Kita akan terlambat.”
*
“Daendels sudah membuat Jalan Raya Pos dan kita masih terlambat tiba di Semarang.” Kata Sir Thomas, “Sekarang kita akan menempuh rute ke Selatan, keluar dari jalur Jalan Raya Pos itu…” kata-kata Sang Gubernur Jenderal itu terhenti lagi, ia menarik napas, seolah memberi kesempatan pada dua laki-laki yang berdiri dihadapannya untuk berpikir. Tapi kemudian ia melanjutkan kembali kata-katanya, “Aku masih tidak mengerti kenapa kita membutuhkan kereta kuda, Kapten?”
“Maaf Tuan, saya hanya menyiapkan apa yang semestinya saya siapkan untuk Anda.” Jawab Sang Kapten dengan membungkuk hormat.
“Kau tidak lihat pakaian yang aku kenakan?” Sir Thomas balik bertanya, dagunya terangkat dengan anggun, khas pembesar Inggris. “Aku bahkan tidak mengenakan pakaian kebesaran dan bahkan tidak membawanya dari Batavia.” Lanjut Sir Thomas.
“Perjalanan ke Selatan akan sangat membahayakan Kapten,” tambah Sang Dokter. “Seberapa dekat lokasi yang kita tuju dengan letak Kerajaan Jawa?”
“Cukup dekat, hanya dua hari berkuda untuk sampai ke Kerajaan Sunan dan setengah hari berkuda untuk tiba ke Kerajaan Sultan.” Jawab Sang Kapten.
“Memakai kereta kuda akan menarik perhatian.” Tegas Sir Thomas, “Minta separuh pasukan berganti pakaian biasa.”
“Maaf Sir, tapi hanya separuh pasukan akan memberikan resiko pada keselamatan Anda.” Tukas Sang Dokter seraya menatap Sir Thomas.
“Satu battalion akan memperlambat pergerakan kita Dokter.” Jawab Sir Thomas. “Pilih orang-orang terbaikmu Kapten.” Pinta Sir Thomas.
“Siap Tuan.” Balas Sang Kapten seraya memberi hormat dan berlalu untuk menyiapkan segala sesuatunya.
“Sir Thomas…” kata Sang Dokter dengan nada keberatan.
“Aku percaya pada Kapten itu dokter.” Kata Sir Thomas, “Kewenangannya adalah mempertahankan kota ini dari serangan serdadu Compagnie, tapi yang dia lakukan adalah bertualang masuk ke pedalaman Jawa dengan orang-orangnya yang berani.” Tukas Sir Thomas, “Mereka menemukan sesuatu yang pastinya luar biasa hingga berani mengirimkan telegram untukku.” Lanjutnya, “Perintahkan pasukan pengawalku untuk bersiaga di kota ini, taruh kereta kudaku di halaman depan, sehingga orang-orang menyangka Gubernur Jenderal Raffles melakukan kunjungan biasa dan hanya berada di kota.”
*
“Siapa yang akan kita temui?”
“Seorang dokter.” Jawab Koeswoyo.
“Dokter?”
“Dia ahli purbakala.”
“Aku membayangkan, dokter yang akan kita temui ini lelaki berumur, tambun, berjenggot tipis dan berkacamata bundar.” Ujarku,
“Kau akan terkejut jika melihatnya.” Balas Koeswoyo seraya menatap jauh keluar jendela angkutan yang mulai merayap semakin pelan, jalanan mulai naik menuju pegunungan.
“Kamu…” tiba-tiba aku mendengar sebuah suara. Kulihat Koes hanya diam. “Ya kamu…” itu suara perempuan, jadi pasti bukan si Koes. Aku melempar pandangan ke depan, angkutan itu membuat penumpangnya duduk berhadap-hadapan. Aku mendapati seorang perempuan, berbaju putih dengan bawahan rok panjang. Rambutnya yang ikal diikat kebelakang. Perempuan itu tersenyum begitu mata kami berpandangan. Aku membalas senyumannya.
“Bukan orang sini ya?” tanyanya. Aku mengangguk. “Yang tenang, jangan berpikir yang tidak perlu untuk kau pikirkan.” Katanya lagi.
“Maksudnya?” tanyaku.
“Aku melihat pikiran bergumul bagai awan hitam yang bergulung-gulung dibenakmu.”
“Berarti sebentar lagi hujan?” simpulku setengah bercanda.
“Jika itu yang kau inginkan…” balas perempuan itu, “Maka awan hitam bergulung itu akan menjadi badai yang akan menghancurkanmu.”
Aku terdiam mendengar kata-katanya.
“Hujan, bisa berarti kesedihan,” katanya lagi, “Kesedihan akibat sebuah penyesalan yang sangat dalam.” Tambahnya. Kali ini aku mendengarkan kata-katanya.
“Apa yang akan aku sesali?”
“Aku tak tahu.” jawab si perempuan, “Apakah kau akan menyesali sesuatu?”
“Sepertinya iya, jika angkutan ini tidak segera tiba ditujuan.”
“Kemana tujuanmu?”
“Loh, aku pikir situ peramal handal?”
“Jadi kau pikir aku seorang peramal?”
“Ya, dari tebakan-tebakanmu tadi mbak.” Jawabku.
“Oh, jadi itu benar?”
Sialan!
Perempuan ini menjebakku.
Dan sebelum aku berkata apa-apa, Koeswoyo sudah menghentikan angkutan dan melompat turun. Aku tersenyum pada perempuan itu dan mengikuti Koeswoyo.
*
“Jika begini terus, kita akan tiba pekan depan Kapten!” seru sang dokter seraya mengendalikan kudanya. Sang Kapten yang memimpin di depan tidak menghiraukan lontaran kata-kata itu, ia terus memusatkan perhatian pada jalanan curam dihadapannya.
“Tak ada jalan lain dokter,” sahut sang Kapten. Rombongan kecil pasukan yang menyamar itu memang tidak bisa melajukan kudanya dengan cepat, mereka harus menaiki gunung, menghindari jurang yang curam selama perjalanan ke Selatan.
“Jika hujan, kita akan membunuh diri kita semua.” Tambah sang dokter lagi. Tidak ada lagi yang mengomentari kata-kata sang dokter, mereka tahu, dari seluruh anggota rombongan, hanya sang dokterlah yang bukan seorang serdadu atau setidaknya memiliki pengalaman berjalan jauh dengan menunggang kuda. Rombongan itu terus merayap dengan lambat namun tak membuang waktu, menembus hutan perawan menuju jantung pulau Jawa.
*
“Orang-orang itu memang sudah gila!” terdengar sebuah suara, “Mereka bilang, apa yang sudah terkubur, biarkanlah terkubur!” lanjutnya dengan nada tinggi, “Kenapa harus susah-susah kita gali lagi?!”
Koeswoyo terpaku ditempatnya berdiri, aku mengikuti apa yang dilakukan si Koes. “Laki-laki itu sedang dalam kondisi emosi yang tidak bagus rupanya,” kata Koes dengan berbisik kearahku. Laki-laki mana? Aku hanya mendengar sebuah suara dan tidak tampak sosok seorang laki-laki pun dihadapan kami.
“Dimana dia?” tanyaku pada Koes, juga dengan nada berbisik.
“Kau tak lihat?” Koes balik bertanya. Aku menggeleng.
“Dia ada di dalam lubang itu.” tunjuk Koes. Saat itu kami berdua telah berada di dalam sebuah tempat terbuka yang dikelilingi pagar seng. Tempat terbuka itu luasnya hampir seluas lapangan bola.
“Apa yang kalian cari?” tiba-tiba ada sebuah suara bertanya dibelakangku, suara perempuan, “Tidak ada apa-apa disini.” Kata suara itu lagi. Aku buru-buru menoleh ke belakang, seorang perempuan berjilbab berdiri menatapku.
“Ya, apa yang kalian cari?” aku mendengar suara lagi, dari sisi lain disampingku “Ini bukan tempat wisata, tidak terbuka untuk umum.”
Aku segera menoleh ke arah lain dan mendapati seorang perempuan lain seukuran perempuan pertama. Kedua perempuan ini, sama-sama memakai jilbab.
“Oh, kalian berdua!” Seru Koes. Dari nada suaranya, ia seolah-olah mengenal kedua perempuan yang entah muncul dari mana itu. “Aku mencari…”
“Ada yang mencariku?!” tiba-tiba terdengar sebuah suara teriakan dari dalam lubang.
“Murid Anda dokter!” teriak kedua perempuan itu bersamaan.
“Muridku?!” tiba-tiba dari dalam lubang muncul sebuah kepala. “Aku tak punya murid!”
Kulihat, Koeswoyo nyengir kuda.
*
“Universitas akan membangun sebuah perpustakaan besar disini. Tapi kalian lihat, pembangunan itu terhenti karena para penggali tanah yang hendak menancapkan pondasi, menemukan sesuatu terkubur didalamnya.” Kisah laki-laki yang dipanggil dokter itu. Ia tengah melepas sarung tangan lalu membersihkan jemarinya dengan air mineral dari botol besar yang dibawakan salah satu perempuan kecil tadi. Aku menebak pasti perempuan-perempuan itu asistennya.
“Apa yang terkubur disini?” tanyaku tiba-tiba, dokter itu menghentikan aktivitasnya lalu melirik Koeswoyo.
“Artefak.” Jawab Koeswoyo.
“Aku merasa kita seperti Indiana Jones sekarang.” Kataku. “Anda arkeolog bergelar doktor seperti dalam film itu, Doktor Jones?” ujarku lagi.
“Hahaha!” laki-laki yang dipanggil dokter itu tertawa. Koeswoyo juga tersenyum. Jujur saja, sosoknya tidak tampak seperti arkeolog pada umumya, dia masih muda, mungkin baru menyentuh umur 30 tahun. Memakai celana jins dan kaos dalam berwarna putih yang tipis. Mengenakan topi biru tua dengan bordir nama dari benang emas dikedua sisinya.
“Dokter anak muda, dokter,” katanya kemudian, “Bukan doktor.”
“Dia benar-benar dokter Men, bukan doktor dalam artian gelar S3.” Tambah Koeswoyo.
“Dokter?” tanyaku, “Seperti dokter gigi?”
“Bukan,” sanggah Koeswoyo, “Dia dokter hewan.”
*
Dia sebenarnya Insinyur.
Dia salah satu insinyur berpengalaman yang dikirim oleh para pembesar kongsi dagang di Negeri Belanda untuk membantu membangun kembali citra Batavia sebagai Ratu Dari Timur. Kongsi itu hampir bangkrut ketika Insinyur itu menjejakkan kakinya di Batavia. Penyakit pun merajalela. Sangat sedikit orang-orang pintar kala itu. Dan ketika situasi politik berubah, kekuasaan beralih dari Kongsi Dagang Belanda ke tangan Inggris. Gubernur Jenderal yang baru, Sir Thomas Stamford Raffles mengumpulkan orang-orang Belanda yang memiliki kemampuan lebih. Tapi bukan itu yang membuat Insinyur itu akhirnya dekat secara personal dengan Sir Thomas. Suatu hari, ketika Sir Thomas tengah mendengarkan penjelasan Insinyur itu tentang kehancuran apa saja yang diderita Batavia setelah peperangan, tiba-tiba seorang serdadu datang dengan tergesa-gesa dan melaporkan bahwa Olivia, istri tercinta Sir Thomas terserang demam tinggi. Mendengar kabar yang datang dari Buitenzorg itu, Sir Thomas segera bergegas meninggalkan Batavia dan meminta Sang Insinyur melanjutkan penjelasannya selama dalam kereta kuda menuju Buitenzorg.
Olivia terbaring di ranjang besar dengan seprai putih di kamar utama. Ia mengginggil bagai orang yang sangat kedinginan. Sir Thomas menggenggam tangan istrinya yang basah oleh keringat, badan Olivia sangat panas. Itulah untuk kali pertama Olivia jatuh sakit akibat serangan malaria. Sang Insinyur yang ikut masuk ke dalam kamar sudah menduga apa yang menimpa istri Gubernur Jenderal Inggris itu. Ia kemudian memberikan saran-saran berdasar pengalamannya selama hidup di Batavia. Entah mengapa Sir Thomas pun mendengarkan masukan-masukan itu dan meminta para pelayannya memberikan ramuan obat berdasarkan rujukan sang Insinyur. Esok harinya, demam Olivia turun, ia tak mengigau lagi. Beberapa hari kemudian, Olivia kesehatan istri Gubernur Jenderal itu telah kembali seperti sedia kala. Sejak saat itu, orang-orang memanggil HC Cornelius dengan panggilan ‘dokter’.
*
“Saya yakin apa yang terkubur disini adalah candi-candi dari dinasti Mataram kuno.” Kata dokter hewan itu. “Dinasti Syailendra.”
“Untuk itulah saya mencari Anda dok.” Ujar Koeswoyo.
“Oh, jadi sekarang kau tertarik dengan urusan candi-candi ini?” tukas Sang Dokter.
“Saya hanya membantu teman saya ini.” Jawab Koeswoyo seraya menunjuk kearahku. Dokter hewan itu lalu memandangku.
“Kau sedang skripsi anak muda?” tanya sang dokter kepadaku.
“Tidak pak.” Jawabku, “Aku sudah menyelesaikannya beberapa bulan yang lalu.”
“Lalu, apa yang ingin kau ketahui?”
“Saya punya sebuah teka-teki yang harus dipecahkan.” Kataku kemudian.
“Teka-teki?”
“Aku mengangguk.”
“Tentang apa?”
“Boleh aku mengatakannya?” tanya Koeswoyo. “Aku akan mengatakannya.”
“Katakan.” Pinta sang dokter hewan.
Lalu Koeswoyo mengatakan teka-teki itu, sekali lagi.
“Dari tempatku berbaring, aku melihat kepala-kepala sang Pangeran bergelimpangan dan menghilang. Dari Istana Keheningan aku memandang puncak Nirwana, menunggumu hingga malam menjelang. Aku yang mengharapkan kedatanganmu adalah Adriana.”
*
“Tahun 1709. Kau tahu apa yang menyebabkan Kraton Sunan berpindah tempat dari Kartasura ke Surakarta?”
“Kraton itu hancur oleh pemberontakan.”
“Benar.” Kata sang dokter, “Seorang pangeran memberontak untuk memperebutkan tahta kerajaan. Kau tahu dimana ia bersembunyi seraya mempersiapkan kekuatannya?”
“Tidak.”
“Tahun 1757. Pemberontakan terjadi lagi. Seorang pangeran kembali berusaha menggulingkan kekuasaan. Kalian tahu dimana ia bersembunyi dan mempersiapkan kekuatannya untuk merebut tahta?”
“Tidak.”
“Pangeran-pangeran itu bersembunyi disebuah tempat terlarang. Jauh dari rumah-rumah penduduk. Dalam lebatnya hutan.” Terang sang dokter. “Orang-orang mengatakan, mereka bersembunyi dibalik sebuah bukit batu.”
“Bukit batu?”
“Ya.” Terang sang dokter, “Bukit batu warisan dinasti Dinasti Syailendra.”
Koeswoyo menatapku. Aku pun membalas tatapannya.
“Kita kesana sekarang?”
“Kemana?” tanyaku.
“Bukit batu itu.”
“Apa itu?”
“Kau tak tahu?”
“Tidak.”
“Kau bercanda?”
“Aku benar-benar tak tahu Koes.”
“Yakin?”
“Koes!” seruku. “Aku bahkan tak tahu apa yang kalian bicarakan.”
“Kau tak tahu apa yang aku dan dokter bicarakan Men?”
Aku menggeleng.
“Tadi dokter bilang, ada sebuah bukit batu tempat pangeran-pangeran pemberontak bersembunyi.” Terang Koeswoyo, “Bukit batu warisan Dinasti Syailendra.”
“Dan setelah pihak kerajaan tahu bahwa pangeran-pangeran pemberontak itu bersembunyi di bukit batu itu, mereka menangkapi dan memenggal kepala para pangeran itu disana. Dua pangeran yang beruntung berhasil menyelamatkan diri dan memaksakan perundingan. Satu orang pangeran akhirnya bertahta dan memulai gelar baru sebagai Sunan Pakubuwono menggantikan dinasti Amangkurat dan satu pangeran lagi bertahta dengan gelar Mangkunegara.” Kisah sang dokter hewan.
Aku berpikir keras.
“Nah Men,” ujar Koeswoyo. “Kau masih tak tahu di mana letak bukit batu tempat persembunyian para pengeran Mataram itu?” lanjut Koes seraya kembali menatapku.
“Tidak.” Jawabku. “Aku bahkan belum tahu siapa nama Anda dokter.” Ujarku.
Sang dokter tersenyum, “Kunt.” Kata sang dokter hewan itu seraya tersenyum.
“Nah dokter Kunt,” kataku kemudian, “Jika Koes tak mau mengatakan padaku. Mau kah kau katakan dimana bukit batu itu berada dok?”
“Kau masih tak tahu?” tanya dokter Kunt.
Aku menggeleng. Sang dokter hanya tersenyum kepadaku, lalu menatap Koeswoyo.
“Kita kesana sekarang, matahari hampir terbenam.” Kata Koeswoyo seraya menepuk pundakku.
“Kemana?” tanyaku, tapi Koes tak menjawab ia telah berlalu meninggalkanku, aku mengikutinya dengan segera seraya telingaku menangkap kata-kata terakhir dokter Kunt;
“Bukit batu tempat para pangeran bersembunyi dengan kepala terpenggal.”
*

GaL said,
January 22, 2010 at 08:50
“Bukit batu tempat para pangeran bersembunyi dengan kepala terpenggal.”
Bukit batu di Jogja, gue rasa Gamping bukan?
Ini semakin susah ketimbang Adriana-Mamen Jakarta!!! erghh *nowel2 Chiko minta obat migren
Dansapar said,
January 22, 2010 at 08:57
Aha..ada pemberontak yg tbunuh di sana,namanya..*duh lupa..*
Jd bener dunk,mau keluar jogja menuju arah magelang:p
Dansapar said,
January 22, 2010 at 09:03
Ah,lo mainin waktu.Keren!mataram islam,raffles,syailendra,balik lg ke mataram islam (pmberontakan itu)
Cmiiw
Jgn2 pjalanan mamen bakal ky pjalanan mataram kuno,yg blanjut dipindah ke jawa timur.hmm..ato malah jgn2 ke sriwijaya?
GaL said,
January 22, 2010 at 09:04
Owww tapi kalo cerita aseline wong-wong iki arep mlaku-mlaku tekan borobudur kok yo…
owwww *gue agak lemot nih ngikutin ini!!!!
GaL said,
January 22, 2010 at 09:05
dan2…main2 ke trowulan juga seru kali ye…*tapi ada korelasinya ma kasultanan nggak seh?
oijaw said,
January 22, 2010 at 09:29
maen ke trowulan dooong kan ada budha ngglendang (berbaring) disana.
GaL said,
January 22, 2010 at 14:11
Iye tuh trowulan…perjalanan mudik gue selalu melewati trowulan
Arief Maulana said,
January 22, 2010 at 20:59
Keren bos. Jd inget kisah duet mautnya Djawa & Alvin. 1 cerita masa ini dan 1 cerita dari masa lampau…
Waiting for the next story…
Ariefl Ilham said,
January 26, 2010 at 23:16
okay,, sekarang banyak kata2 dokter bertebaran dalam cerita lo,, dan gw lagi agak sensi sama yg namanya ‘dokter’.. hahaha..