7. Airmata Sepanjang Tahun
Sudah dua puluh tahun berlalu sejak beban berat itu jatuh ke pundak rakyat. Tak boleh ada yang lelah, tak boleh ada yang tak berkeringat. Melewati hujan dan terik mentari, dan begitulah cinta dilalui, begitulah cinta harus dijalani. Dan jika seorang raja yang menderita karena cinta, maka seluruh negeri yang akan turut menanggung derita.
Bongkahan batu marmer harus dilayarkan menyusuri Sungai Jumna yang mengalir tenang dengan perahu-perahu kayu, para pendayungnya tampak letih, namun letih bagai dosa yang terlarang. Para pekerja di darat akan menarik marmer-marmer itu ketepian menggunakan gajah-gajah, lalu pekerja lain yang telah menunggu akan memahatinya, kemudian pekerja lain menyusunnya sebongkah demi sebongkah untuk membentuk sebuah bangunan megah. Sebuah istana. Bukan-bukan, bukan istana, bangunan itu adalah makam untuk cinta yang telah tiada.
Dan sosok cinta itu bernama Mumtaz Mahal.
Mumtaz berusia akhir dua puluhan saat itu, ia sangat disayang karena melahirkan keturunan dan terus mengandung. Mumtaz pun tak segan untuk naik kuda dan menemani Sang Raja berperang. Saat itu ia tengah mengandung anak keempat belas ketika tengah menemani Sang Raja berperang di daerah Selatan dekat Burhanpur. Bayi itu sungsang namun dapat lahir ke dunia dengan selamat, sedangkan Mumtaz meninggal di tenda perang.
Sang Raja penguasa Mogul itu, Shah Jahan, tentu sangat kehilangan. Berhari-hari ia mengurung diri dalam kamar. Dan setelah hampir setahun berduka, ia membuka pintu kamarnya, melangkah keluar istana. Hari itu hujan yang jarang turun mendadak turun dengan derasnya. Para pujangga akan menggambarkan hari itu dengan kalimat yang biasa, alam seolah turut berduka. Tapi tidak bagi Sang Raja, saat itu ia telah berdiri diatas kolam istana, matanya tajam menatap bulir air hujan yang jatuh tepat diatas teratai yang mengambang. Alam memberi Sang Raja inspirasi agar cintanya tetap abadi.
“Buatkan istana yang indah ditepi sungai untukku, sebagai tanda cintamu kepadaku,” pinta Mumtaz sebelum menghembuskan nafas terakhirnya. Esoknya, perintah yang diserukan dengan suara bergetar dan menyayat hati itu terdengar dari bibir Shah Jahan. Dan penderitaan cinta selama dua puluh tahun pun dimulai, sekitar 20.000 artis, pemahat, dan pekerja dari seluruh India serta Asia dikerahkan untuk membuat Taj Mahal. Lebih dari 1.000 gajah terlibat untuk menarik pualam tembus cahaya dari Rajasthan (India Barat), Tibet, dan Afganistan. Jasper (batu warna-warni) dari Punjab, kristal serta permata jade dari China, Sri Lanka, dan Arab. Ada 28 jenis batu permata dan sejenisnya yang dipakai di Taj Mahal.
Pada 9 Mei 1653 istana itu telah siap untuk dipersembahkan pada Shah Jahan, untuk Mumtaz sang isteri kesayangan. “Luar biasa indah,” kata Lahauri, sang arsitek seraya berdiri disamping Shah Jahan. “Keindahan yang sempurna untuk mengingat kecantikan almarhum Permaisuri Mumtaz.” Lanjutnya. Shah Jahan hanya terdiam, bulir air mata menggumpal di sudut mata kanannya, lalu mengalir turun melewati pipi dan jatuh diatas lantai marmer.
“Memang indah, luar biasa indahnya.” Kata Shah Jahan lirih, “Tapi setahun sekali, saat hujan turun dan membasahi istana ini, bulir air hujan jatuh pada teratai di kolam taman ini, saat itulah keindahannya hilang, tak akan bisa menutupi kepedihan yang aku rasakan…”
*
Airmata menggumpal lagi di sudut matanya, lalu jatuh menyusuri pipi dan jatuh lagi diatas teratai yang mengambang diatas air kolam. Dia laki-laki besar, dia seorang pemimpin, tapi hari itu ia merasakan kesedihan yang luar biasa dalam. Tapi walau pun kepedihan begitu menghancurkan hatinya, ia tidak jatuh ke tanah dan menangis seperti anak kecil, kaki-kakinya yang terbungkus sepatu boot hitam tetap berdiri dengan kokoh, kedua tangannya terlipat di dada. Ia tetap pembesar yang berwibawa.
“Sir..” tiba-tiba terdengar suara memanggilnya. “Kau tak apa-apa?” suara itu kembali bertanya. “Maaf aku baru tiba, aku langsung berangkat kemari sewaktu menerima telegram itu.” lanjut suara itu terus mendekat. Laki-laki itu menyeka air matanya sebelum sempat terlihat pria yang kini telah benar-benar berada disampingnya. “Maaf aku terlambat, aku turut berduka. Ia wanita yang hebat.”
“Kau tahu dokter…” akhirnya laki-laki itu angkat bicara. “Seorang pengembara berkebangsaan Perancis pernah mempublikasikan catatan perjalanannya…”
“Sir Thomas, saya rasa sekarang bukan saat yang tepat untuk…” ucap Cornelius menyela. Tapi Sir Thomas mengangkat satu tangannya, pertanda agar Cornelius tak memotong kata-katanya. “Pelajaran sejarah…” tapi Cornelius terlepas melanjutkan dua patah kata yang sudah terlanjur berada dalam benaknya dan tak bisa ia hentikan.
“Dalam catatannya, pengembara itu menceritakan bahwa suatu hari ia sampai di tanah Hindustan, wilayah kekuasaan kekaisaran Mogul.” Lanjut Sir Thomas, “Kau tahu dimana itu?”
“Sekarang wilayah kekuasaan Kerajaan Inggris.” Jawab Cornelius.
“Benar.” Ucap Sir Thomas, “Pengembara itu berkisah bahwa di tepi sungai Yamuna, ia melihat sebuah istana yang sangat indah.”
“Taj Mahal.” Simpul Cornelius.
Sir Thomas mengangguk, “Sebuah persembahan tanda cinta yang sangat besar Sang Raja Shah Jahan untuk istri tercintanya…”
“Persembahan untuk cinta.” Ucap Cornelius seraya menatap teratai yang berayun tenang diatas air kolam dihadapannya. “Saya telah mendengar kisah tentang persembahan untuk cinta ini Sir Thomas.”
“Kau membaca catatan Jean-Baptiste Tavernier itu juga?” tanya Sir Thomas.
“Tidak, bukan itu.” jawab Cornelius. “Tapi kisah lain lagi.”
“Ceritakan padaku.” Pinta Sir Thomas.
“Cerita ini saya dengar dari penduduk yang tinggal di perbukitan disekitar bukit batu yang kita temukan tempo hari.” Kata Cornelius.
“Oh ya,” ujar Sir Thomas, “Bukit batu itu, misteri apa yang sudah kau temukan dokter?”
“Penduduk bercerita tentang legenda seorang laki-laki jelata yang jatuh cinta kepada seorang puteri raja.” Cornelius mulai berkisah. “Laki-laki bernama Gunadharma.”
“Nama yang aneh.” Tukas Sir Thomas.
“Ya, bukan nama penduduk pribumi.” Sahut Cornelius.
“Aku rasa itu nama yang diambil dari bahasa Sansekerta, bukan begitu dokter?” simpul Sir Thomas.
“Saya juga menduganya demikian.” Jawab Cornelius, “Artinya kisah turun-temurun penduduk pribumi di daerah itu tentang sosok Gunadharma bisa jadi benar.”
“Jadi?” tanya Sir Thomas.
“Gunadharma yang rakyat jelata itu jatuh cinta pada seorang puteri raja,” kata Cornelius kemudian, “Dia sadar dia berada di dunia yang berbeda dengan pujaan hatinya, jadi…” Cornelius menghentikan kata-katanya sesaat, “Jadi untuk menunjukkan rasa cintanya yang besar, ia membuatkan sesuatu untuk dipersembahkan pada wanita pujaannya, wanita yang sangat dicintainya.”
Sir Thomas tampak merenung.
“Dengan dalih membuat sebuah monumen untuk Sang Raja, Gunadharma mendapat restu untuk membangun monumen yang sebenarnya diperuntukkan kepada sang puteri raja.” Lanjut Cornelius.
“Jadi bukit batu itu adalah…”
“Saya mengerahkan duaratus orang pekerja untuk membersihkan dan menggali bukit batu itu.” ucap Cornelius, “Saya melakukan penelitian siang malam, menemui penduduk setempat yang kebanyakan berdiam diatas bukit.” Lanjut Cornelius. “Ya Sir Thomas, bukit batu itu adalah salah satu monumen tanda cinta. Dari seorang laki-laki bernama Gunadharma, untuk dipersembahkan kepada seorang puteri raja bernama Pramudawardhani.”
Sir Thomas tampak termenung. Tapi kemudian ia menghela nafas. “Kau ingat hari saat kita akan berangkat ke Semarang pertamakali dokter?”
HC Cornelius mengangguk. “Hari itu adalah saat dimana Olivia Raffles terserang demam untuk kali pertama.”
“Igauan Olivia saat itu…”
“Saya mendengarnya…”
“Mimpiku, kata Olivia. Mimpiku.” Ucap Sir Thomas.
“Almarhum istri Anda mempunyai sebuah impian Sir?”
Sir Thomas mengangguk. “Dan aku akan mewujudkannya, sebagai tanda cintaku kepadanya.” Jawab Sir Thomas. “Persembahan yang sederhana, tak semegah apa yang diberikan Gunadharma pada Pramudawardhani, tak seindah yang dipersembahkan Kaisar Mogul Shah Jahan pada permaisurinya Mumtaz.” Lanjut Sir Thomas, “Tanda cinta yang sederhana dari Sir Thomas Stamford Raffles kepada Olivia Raffles.” HC Cornelius mendengarkan, namun kedua matanya jatuh menatap pada riak air kolam, sore yang mendung itu, keduanya berdiri dihalaman belakang Istana Gubernur Jenderal di Buitenzorg.
“Persembahan sederhana untuk cinta, diatas tanah yang selalu tersiram hujan setiap waktu. Itulah pertanda kesedihanku.”
*

Arief Maulana said,
January 24, 2010 at 08:23
Keren…
Perpaduan kisah beda zaman yg memiliki nilai dan pelajaran hidup yg sama.
Sejarah memang luar biasa…
nezz said,
January 26, 2010 at 00:20
keren sangat,!! ga sabar pengen baca lanjutannya
Dicky said,
January 26, 2010 at 21:02
Gw malah ngebayangin visualnya Gros..hehehe
bocipalz said,
January 27, 2010 at 20:06
apa yang ditinggalkan oleh Sir Thomas di Bogor?
di tanah yang senantiasa tersiram air hujan
*bogor = kota hujan
KRB?
eni said,
January 28, 2010 at 12:11
dasyatnya Cinta!keren bgt yg ini makin membuatku jatuh cinta pada tulisan2mu pak Nugros!