9. Hati Yang Terpenjara

Ruangan itu berukuran lebih kecil dari kamar kos Mamen di Jakarta, pun kamar kos Koeswoyo di Jogja. Lantainya terbuat dari tegel semen yang dingin. Kosong tidak ada perabot apapun. Ketiga sisinya adalah tembok kusam dengan coretan tangan yang sangat kotor, satu sisi lain yang menghadap ke depan adalah jeruji besi. Itulah ruangan penjara tempat mengurung copet, maling dan penjahat kelas teri lainnya. Tapi dua sosok yang terkurung dengan wajah pucat dan letih adalah wajah yang kita kenal. Mamen dan Koeswoyo.

Kenapa mereka berdua bisa berada di penjara?

Kisahnya terketik rapi diatas empat lembar kertas HVS hangat yang baru saja keluar dari mesin printer yang teronggok di ruang penyidik, tak jauh dari ruang penjara. Itulah lembaran berita acara yang baru saja dibuat seorang laki-laki berumur yang berbalut seragam cokelat tua kusam dengan satu buah garis sebesar batang korek api terpasang dikedua bahunya, Briptu Mulyono.

Penyidik:

Coba ceritakan kejadian yang Anda alami dengan singkat, padat dan jelas?

Mamen:

Jadi begini pak…

Koeswoyo:

Kami mencari seorang cewek bernama Adriana.

Penyidik:

Coba diputuskan dulu, siapa diantara kalian berdua yang akan menceritakan? Jangan dua-duanya, nanti saya bingung ngetiknya. Kalian pikir pekerjaan ini mudah? Saya ini sudah puluhan tahun nggak naik-naik pangkat.

Mamen:

Kok bapak curhat di lembaran berita acara?

Penyidik:

Biar sekalian dibaca atasan.

Koeswoyo:

Saya yang akan bercerita.

Penyidik:

Silahkan.

Koeswoyo:

Saya mengenal teman saya ini, namanya Mamen, bukan nama sebenarnya, ia datang dari Jakarta dengan pesawat Lion Air kemarin malam. Saya hanya seorang penarik becak dan Mamen adalah penumpangnya, saya kira dia seperti kebanyakan orang yang datang ke Jogja, untuk berlibur. Tapi ternyata tidak. Ia tengah mencari seorang perempuan, entah teman, sahabat, atau mungkin pacar, yang jelas, Adriana adalah sosok yang membuatnya rela terbang ke Jogja dengan seketika tanpa membawa apapun. Jika ada laki-laki yang kehilangan akal seperti itu, tak berpikir panjang seperti itu, bapak tahu artinya kan?

Penyidik:

Tidak. Saya tidak tahu artinya, tolong jelaskan artinya sehingga berita acara ini jelas.

Koeswoyo:

Bapak tahu Bandung Bondowoso?

Penyidik:

Tidak.

Koeswoyo:

Bandung Bondowoso adalah seorang laki-laki yang sangat pintar sekaligus sakti mandraguna, ia adalah putera dari Raja Damarmoyo yang berkuasa di kerajaan Pengging. Tak jauh dari Pengging, berdiri kerajaan dengan seorang raksasa yang berkuasa, Prabu Boko dan patihnya yang terkenal bernama Patih Gupolo.

Penyidik:

Ini saya harus mengetik semua? Jangan berbelit-belit. Langsung saja ceritakan siapa Adriana.

Koeswoyo:

Ini saya sedang menceritakan siapa Adriana itu.

Penyidik:

Teruskan.

Koeswoyo:

Singkat cerita, Prabu Boko yang gemar memakan manusia itu memerintahkan Patih Gupolo untuk menyerang Kerajaan Pengging, demi memperbesar wilayah kerajaannya. Tapi Pengging tak dapat dikalahkan begitu saja karena ternyata, putera mahkota Pengging, Bandung Bondowoso memiliki kesaktian yang luarbiasa. Bahkan Prabu Boko berhasil dikalahkan di medan perang dan tewas.

Penyidik:

Anak muda, Anda membuat saya harus mengetik kisah sejarah?

Koeswoyo:

Mau saya lanjutkan apa tidak?

Penyidik:
SILAHKAN.

Koeswoyo:

Kepalang tanggung, Bandung akhirnya menyerang Kerajaan Boko dan tanpa diduga, ia mendapati seorang puteri cantik berdiam di istana Boko. Puteri cantik itu adalah Roro Jonggrang, anak Prabu Boko. Seketika, melihat kecantikannya, Bandung Bondowoso pun jatuh cinta.

Penyidik:

Katanya Adriana, kok malah Roro Jonggrang? Kalian mempermainkan saya?

Koeswoyo:

Mau saya teruskan?

Penyidik:

#$%^&*!!!!

Koeswoyo:

Bandung akhirnya meminang Roro Jonggrang, tapi perempuan itu tak menerima pinangan pembunuh ayahnya begitu saja, ia mengajukan dua syarat; Pertama: Bandung harus membuatkan sumur Jalatunda untuk Jonggrang mandi dan, Kedua: Bandung harus membuatkannya candi sebanyak seribu buah dalam satu malam.

Penyidik:

Kalian tidak sedang menyuruh saya untuk mengetik seribu lembar dalam satu malam kan?

Koeswoyo:

Sumur sudah dibuat dan tinggal candinya. Ketika Bandung tengah mengerahkan pasukan jin untuk membangun candi hingga berjumlah sembilan ratus sembilan puluh sembilan, tiba-tiba terdengar suara ayam berkokok dikejauhan. Suara padi ditumbuk pun sahut-menyahut. Pasukan jin yang mengira pagi akan segera datang pun lari kalang-kabut membuat candi tak lengkap seribu buah. Belakangan, Bandung Bondowoso akhirnya sadar bahwa pagi belum tiba, matahari belum menyingsing, ayam-ayam itu berkokok karena mendengar suara penumbuk padi yang ditumbuk oleh dayang-dayang Roro Jonggrang.

Penyidik:

Penipuan?

Koeswoyo:

Ya.

Penyidik:

Pasal 378.

Koeswoyo:

Itulah yang terjadi.

Penyidik:

Kalian ditipu?

Koeswoyo:

Kami ditipu.

Penyidik:

Oleh Roro Jonggrang?

Koeswoyo:

Bukan.

Penyidik:

Siapa?

Koeswoyo:

Seorang perempuan, Roro Jonggrang masa kini. Dan karena dialah kami sekarang berada disini. Dalam penjara. Kami ditipu mentah-mentah olehnya.

Penyidik:

Siapa sosok yang Anda sebut Roro Jonggrang masa kini itu?

Koeswoyo:

ADRIANA.

Lembaran berita acara pemeriksaan itu berakhir. Briptu Mulyono merasa jemarinya tebal membengkak, belum pernah ia mengetik sebanyak itu dalam satu malam, kini ia berniat untuk istirahat, besok interogasi dilanjutkan kembali. Mamen dan Koeswoyo pun kembali masuk dalam kurungan.

*

8 Comments »

  1. Frezask said,

    Wuakakakk.., selain legenda Roro Jonggrang, Sangkuriang, Gunung Batok, kota Jambi dan entah apa lagi. Skrg Mamen juga ditipu!

  2. Lha kok ujug2 di penjara ini? *berpikir keras…

  3. sparrow said,

    wakakakkkkkkkkkkk………..jadi g cuma polisinya yang ketipu….kita juga yaaaaaaaaaaaa….keren….

  4. Jia Effendie said,

    gemesgemesgemesgemes. *penasaran*

  5. nezz said,

    wakakak cakep cakep!

  6. milla said,

    bikin penasaran ajah…

  7. eni said,

    Hah?
    Sama dgn yg lain Penasaran

  8. uli said,

    1. Jin bisa lari?
    2. Psl 378 : penipuan
    3. Lbh intelek tukang becak dr mahasiswa
    Heheheheh…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.