8. Pesan Dari Puncak Bukit

Laki-laki itu masih berusia muda. Umurnya baru sampai di angka dua puluh. Tapi semangatnya melebihi teman-teman seangkatannya. Ia sering pergi dari rumah besarnya untuk berkelana, keluar dari keramaian dan belenggu budaya, menghindari pengawal-pengawalnya, untuk melihat dunia, mencari inspirasi.

Mulanya, ayah dan ibunya tak begitu memperhatikan, tapi semakin hari, tingkah sang anak laki-laki kesayangan itu semakin mengkhawatirkan, pergi tanpa pesan, tanpa pengawalan dan pulang setelah matahari bersinar terang.

“Anak itu menghilang lagi.” Kata sang ibu pada suaminya, “Dia tak pulang semalaman tadi.”

“Biarkan saja.” Jawab suaminya.

“Biarkan saja bagaimana?”

“Biarkan dia mencari apa yang ingin dia cari.” Ucap suaminya lagi, “Kau tahu, waktuku tak lagi banyak dan anak itu tengah mencari sesuatu agar pada saatnya nanti siap menggantikanku.”

“Kenapa paduka berkata begitu?” kata istrinya. “Paduka membuat hati hamba bersedih.”

“Kenapa tiba-tiba cara bicaramu menjadi resmi begitu?” tanya suaminya, “Aku ini suamimu dan tidak ada siapapun di ruangan ini, berkatalah dengan mesra.”

“Suamiku, anakku,” kata sang istri, “Dua laki-laki yang aku cintai dan selalu membuatku khawatir.”

“Tak perlu khawatir istriku sayang,” ujar suaminya menenangkan, “Pengawalku akan selalu menjaganya. Biarkan dia dewasa…”

“Tapi aku tak tahu dimana dia sekarang berada.”

“Dia tengah berdiri dengan gagah, diatas sebuah bukit.”

*

Dia laki-laki muda yang berdiri di puncak bukit tertinggi pegunungan Menoreh itu bernama Raden Mas Jatmika, tapi orang-orang diseluruh kerajaan mengenalnya dengan nama Raden Mas Rangsang. Merupakan putra dari pasangan Prabu Hanyokrowati dan Ratu Mas Adi Dyah Banowati. Ayahnya adalah raja kedua Mataram, sedangkan ibunya adalah putri Pangeran Benawa raja Pajang.

Rangsang berdiri sendirian di puncak bukit, semalaman ia bertapa ditempat itu. Bercengkerama dengan sunyi. Ia tak tidur sedikitpun sepanjang malam tadi, paginya saat matahari mulai menyapanya, mengintip malu-malu dari balik punggung Gunung Merapi dan Merbabu, matanya mulai menangkap sebuah lingkaran berwarna emas dikejauhan. Jauh dibawah lembah. Perlahan, Rangsang mulai menggerakkan kakinya. Ia berdiri dengan sempurna dan memicing-micingkan matanya.

“Raden..” tiba-tiba sebuah suara memanggilnya. “Ada apa?” suara itu lagi, terdengar mendekat dari balik semak, satu tingkat dibawah puncak, tempat Rangsang bersemedi. Panjalu bukan pengawal, Panjalu adalah pembantu setianya.

“Kau lihat itu Panjalu?” ujar Rangsang seraya menunjuk dengan tangannya. “Cahaya matahari memantul pada sesuatu dan membentuk lingkaran indah.”

“Mana Raden?”

“Itu.” ujar Rangsang sekali lagi. “Kau lihat?”

“Ya, aku lihat.”

“Apa itu?”

“Seperti bunga.”

“Bunga?”

“Bunga teratai.”

“Bunga teratai sebesar itu?” ujar Rangsang, “Dan berwarna hitam keemasan?”

Sinar matahari memantul pada puncak bukit batu di dasar lembah itu. Rangsang dan Panjalu masih terpukau pada keindahan pantulan matahari itu tanpa sadar bahwa matahari terus begerak naik. Cahayanya pantulan berubah dan seketika, tanpa Rangsang sadari, satu cahaya memantul yang berpendar tepat menuju kewajahnya, dan menyilaukan mata telanjangnya. Rangsang terkejut, ia bergerak mundur dengan cepat. Rangsang membuka matanya lagi, tapi ia tak melihat apapun juga.

Anakku!

Rangsang mendengar suara sayup-sayup.

Anakku!

Itu suara ibunya.

“Apa yang terjadi pada anakku?!” jerit Ratu Mas Adi Dyah Banowati, sang ibu yang mulai histeris.

*

“Apa yang terjadi?” Tanya Mamen. Koeswoyo kembali menghantamkan sikunya kearah perut Mamen, memintanya jangan memotong kisah sang pemandu wisata.
“Di puncak pegunungan Menoreh itulah, Raden Mas Rangsang mendapatkan wahyunya untuk naik tahta.” Jawab Warsono.

“Cahaya itu?”

“Ya,” tegas Warsono, “Namanya Wahyu Keprabon.”

“Wahyu Keprabon?” tanya Mamen, “Apa itu Wahyu?”

“Itu semacam pesan, semacam pertanda untuk bertahta.” Jawab Warsono.

“Oh.” Desah Koeswoyo. “Jadi Raden Mas Rangsang itu adalah?”

“Setelah naik tahta, Raden Mas Rangsang bergelar…”

“Sultan Agung Hanyokrokusumo.” Ucap Koeswoyo memotong perkataan Warsono, “Raja paling berkuasa dari Dinasti Mataram.”

“Wahyu Keprabon ia dapatkan dipuncak bukit Menoreh itu.” ujar Warsono seraya menunjuk dengan tangan kanannya. Mamen mengikuti arah yang jari telunjuk Warsono dan mendapati sebuah bukit hijau dengan awan kelabu yang menggantung diatasnya.

“Itu pegunungan Menoreh?” tanya Mamen.

“Ya.” Jawab Warsono, “Pegunungannya membentang hingga pesisir Selatan dan bukit yang kita lihat itu bernama bukit Gunadharma.”

“Gunadharma?” tanya Mamen, “Dimana ya aku mendengar nama itu?”

“Itu nama Universitas Men!” sahut Koeswoyo.

“Eh, iya!” ucap Mamen, “Satu di Depok, satu di Cilandak dan satu lagi di Bekasi.” Lanjut Mamen. “Jadi nama universitas itu berasal dari nama bukit?”

“Bukan.” Jawab Koeswoyo, “Tapi berasal dari nama seorang arsitek.”

“Gunadharma seorang arsitek?”

Koeswoyo dan Warsono mengangguk bersamaan.
“Jalan tol mana yang dia bangun?”

“Hahaha!” Koeswoyo tertawa.

“Gunadharma yang merancang Borobudur!”

“OMG!”

“Tapi kenapa bukit itu dinamakan Gunadharma?” tanya Koeswoyo tanpa mempedulikan Mamen yang terkejut-kejut.

“Karena kisahnya, usai membangun Borobudur, Gunadharma pergi ke bukit itu.” jawab Koeswoyo. “Jika langit cerah, bukit itu akan tampak seperti sosok manusia yang tidur.”

“Tidur?” tanya Mamen.

“Ya, tidur dan menjaga hasil karyanya.”

“Kalo menjaga berarti nggak tidur dong.” Tukas Koeswoyo.
“Berarti dia hanya berbaring!” seru Mamen.

“Dari tempatku berbaring, aku melihat kepala-kepala sang Pangeran bergelimpangan dan menghilang. Dari Istana Keheningan aku memandang puncak Nirwana, menunggumu hingga malam menjelang. Aku yang mengharapkan kedatanganmu adalah Adriana…”

Mamen memandangi Koeswoyo yang kembali mengulang isi teka-teki itu. Keduanya saling pandang.

“Apa yang kau katakana?” tanya Warsono yang kebingungan.

“Dari tempatku berbaring…” ulang Mamen. “Koes?”

“Ya Men?”

“Apakah dia?”

“Dia siapa?”

“Adriana…”

“Kenapa Adriana?”

“Menungguku diatas bukit itu?”

Koeswoyo tersenyum.

*

6 Comments »

  1. Dicky said,

    Makin berasa Dan Brown-nya Gros…Lanjutkan!

  2. dian wida said,

    Manstaff.. Bertutur “sejarahnya” enak sekali. Tak menggurui banget. Kayak belajar filsafat yg rumit dg nyantai d Dunia Sophie. Lanjutin ya Captain! ;)

  3. eni said,

    cpt pindah Mameen bkn disitu tempatnya.tambahin ttg Sultan Agung dunk Capt..hehehe favorite saya itu Sultan Agung.

  4. milla said,

    keren banget…kapan lanjutannya diposting ya…

  5. Dan saya makin terlena saja mengikuti kisah berbalut sejarah yg kental ini…

    Now I’m waiting for next chapter capt. ^.^

  6. fiza said,

    ini the same adriana and mamen yaaah..nice job, i enjoy it.
    bikin cerita sejarah jadi enak dibaca.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.