March 29, 2011

Laki-Laki Yang Akan Membawamu Terbang

Posted in Uncategorized at 17:46 by luckybuddha

Hari ini, tiba-tiba aku mengingat nenekku.
Kisahnya dimulai pada hari itu. Aku dan adikku memang tak tinggal bersama bapak dan ibuku. Bapakku bekerja di Padang kala itu, ibu tentu saja menemaninya. Kakakku tengah mengambil studi di luar negeri. Sedang adikku tengah berlibur, seingatku, mungkin ke Bali.

Aku memang tak begitu dekat dengan nenekku. Kau tahu, ada sedikit mimpi buruk yang menghantuiku saat aku kecil. Rahasia kecil yang tak kuberi tahu. Tentang aku dan nenekku. Kalian tahu nenek-nenek kan? Mereka tua, keriput, berkain dan kebaya, dengan rambut hitam yang digulung-gulung, bau minyak angin dan sirih. Lalu suatu petang, mungkin nenek baru saja selesai mandi, aku masuk ke kamarnya karena ibu menyuruhku untuk memanggilan nenek. Kulihat nenek tengah melepas ikatan rambutnya, rambut hitamnya tergerai panjang, jatuh sampai ke punggung. Nenek duduk diranjang besinya yang berderit-derit. Aku berdiri terpaku. Lalu balik badan dan lari…

Aku pernah mendengar kata kakakku yang dekat dengan nenek, dia bilang orang tua itu keramat hidup, doanya sungguh manjur. Dan kakak memang merawat nenek dengan baik, hampir setiap saat mengunjungi nenek di rumahnya, membawakan makanan dan memijat kaki nenek. Mungkin jika hidup kakak sekarang lancar dan bahagia, studinya lancar, pekerjaannya baik, itu karena doa-doa nenek untuknya.

Kembali ke hari itu, aku sendirian dirumah dan nenek tiba-tiba sakit. Aku membawanya ke rumah sakit dengan mobilku. Nenek dirawat dengan cekatan di bagian Gawat Darurat, lalu ditempatkan di salah satu sudut kamarnya. Infus menusuk pergelangan tangannya, juga selang pernapasan menyumpal hidungnya. Nenek terbaring lemah.

Malamnya aku menemani nenek.
Aku berdiri di pojok ruangan seraya memandangi nenek yang terbaring. Ada banyak suara mesin di ruang itu, serta lampu kelap-kelip dan tetes infus yang jatuh satu persatu. Tak tahan melihat atau mungkin juga takut, aku meninggalkan ruangan itu.

Untuk merokok.
*

“Kau tahu ini rumah sakit?”
“Iya tahu, nenekku dirawat di dalam.”
“Kau tahu dilarang merokok di rumah sakit?”
“…”

Akhirnya aku menoleh ke arah suara. Nenek berdiri disela pintu menatapku.
“Lho, nek, kok bangun?!” seruku panik. Kutoleh kesana-kemari, tak ada orang, tak ada suster lewat, atau dokter melenggang. Rumah sakit itu sepi. Aku berdiri mendekatinya, tapi nenek malah keluar dan duduk di kursi panjang yang tadi menjadi tempatku merokok.

“Bapak ibumu akan datang?”
“Mungkin besok nek.” Jawabku, “Adik masih liburan, mungkin besok juga pulang.”
“Kakakmu?” tanya nenek lagi. “Aku merindukan kakakmu, dia persis seperti kakekmu.”
“Kalaupun pulang, pasti dua hari lagi baru sampai.”
“Biarlah dia belajar di luar negeri.”
“Nenek merindukan kakek?” tanyaku. Nenek mengangguk.
“Kakek sering mijetin kaki nenek.”
“Nenek mau saya pijetin?”
Nenek tersenyum.
“Kamu sudah punya pacar?”
“Kenapa tiba-tba nenek nanya itu?”
“Nanya saja, kamu kan jarang bicara sama nenek.”
“Hmm, maaf nek. Saya nggak pernah bermaksud begitu…”
“Kamu juga nggak sempat mengenal kakekmu kan?”
“Kakek sudah nggak ada waktu saya besar.”
“Dia laki-laki yang baik dan sederhana.”
“Kakek?”
“Ya.”
*

Nenek bertemu kakek pertamakali di Pasar Malam. “Kamu tahu Sekaten?” tanya nenek. Aku mengangguk. “Nenek bertemu kakek di Sekaten.” Lanjut nenek. “Kakek berjualan kitiran waktu itu. Kamu tahu kitiran?”
Aku mengangguk. Walau tak tahu apa itu kitiran.
“Kakek memberi nenek satu kitiran gratis waktu itu.” nenek berkisah lagi. “Nenek senang sekali.” Lanjutnya, “Kakekmu itu, dia laki-laki yang manis.”
“So sweet nek, terus?”
“Kakek bilang kitiran yang dia berikan pada nenek itu, bisa membawa nenek terbang.” Kata nenek kemudian. “Padahal menurut nenek, senyum kakek aja sudah membuat nenek serasa terbang ke awing-awang.” Lanjut nenek seraya menatapku. “Kamu tak tahu apa itu kitiran ya?”
Akhirnya aku menggeleng.
“Anak muda jaman sekarang, taunya apa?” kata nenek kemudian. “Kitiran itu baling-baling kayu, yang ditaruh diujung kayu sepanjang tongkat, terus tongkatnya kita ayun-ayun supaya ada angin untuk membuat baling-balingnya berputar.”
“Oh itu, iya-iya nek.”
“Jadi karena kitiran kayu itu nenek jatuh cinta pada kakek?”
“Bukan itu saja,” jawab nenek, “Nenek jatuh cinta pada kakek, karena dia bisa membawa nenek terbang tinggi.” jawab nenek, “Ia mewujudkan mimpi-mimpi nenek.”
“Wah kakek hebat.”
“Iya, dia laki-laki hebat,” ujar nenek tanpa menoleh padaku, “Sekarang laki-laki itu sudah datang menjemput, dan akan membawa nenek terbang tinggi lagi. Nenek sungguh bahagia.”
“Hah? Siapa nek?”
“Kakek.”

***

 

PS: Nenek gue, Ny Soewardi Sjamsoewirjo meninggal awal tahun 2002. Hanya ada gue di rumah sakit Panti Rapih kala itu.

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.